Digemari Masyarakat, Kajian Sastra Horor Perlu Dikembangkan
Kajian sastra horor yang mengulik misteri, hantu, dan hal-hal
mistis lainnya perlu dikembangkan. Kajian tersebut berpeluang besar
dialihwahanakan dalam berbagai medium, seperti audio, animasi, gim, film, dan
platform digital lainnya. Cerita rakyat bertema horor tersebar hampir di
seluruh daerah di Tanah Air. Kisah horor digemari masyarakat Indonesia.
Film-film bergenre horor kerap merajai industri film dalam negeri dari masa ke
masa. Siniar atau podcast yang membahas kisah-kisah misteri juga didengarkan
oleh banyak orang. Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN,
Tirto Suwondo, mengatakan, Indonesia memiliki cerita horor yang bejibun, dikisahkan
lintas generasi dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tapi, analisis atau kajian tentang sastra horor masih sangat
jarang jika dibandingkan dengan jumlah cerita rakyat yang melimpah. Hal ini
menjadi tantangan bagi para peneliti untuk mengkajinya dalam berbagai perspektif.
”Dalam konteks industri kreatif, peluang yang menjanjikan adalah adaptasi, alih
wahana atau ekranisasi ke film layar
lebar, televisi, dan platform digital,” ujarnya dalam peluncuran dan diskusi
buku Sastra Horor, di Jakarta, Selasa (23/4). Buku setebal 1.010 halaman itu
menyajikan 45 artikel kisah horor. Buku ini merupakan hasil riset dan kajian
tentang beragam gejala horor yang hidup di tengah masyarakat di sejumlah
daerah.
Tirto mengatakan, hampir semua artikel dalam buku itu ditulis
dengan ilmiah menggunakan struktur IMRaD (pengantar, metode, riset, dan
diskusi). ”Hal ini menjadi semacam siraman yang menyejukkan ditengah ladang
kering dunia kritik, telaah, dan apresiasi kita tentang sastra horor,” ucapnya.
Sastra horor tidak hanya menjadi kajian menarik bagi periset di Tanah Air. Di
luar negeri, kajian kisah horor dipublikasikan di berbagai media dan jurnal,
seperti majalah World Literature Today serta jurnal Horror Studies dan Journal
of Dracula Studies. Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN Ade
Mulyanah menuturkan, ”Peran film berbasis horror sebagian besar merupakan proses
ekranisasi karya-karya sastra. Ini menunjukkan sebuah peran besar sastra
terhadap perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia”. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023