Marsilia Krenata Pengayom Orang-orang Terbuang
Marsilia Krenata (57) mengabdikan hidupnya untuk mengasihi pemulung,
gelandangan, pengemis, dan orang dengan gangguan jiwa. Ia rela bekerja
serabutan demi mengentaskan mereka meski sempat dikerjai orang, berpindah-pindah,
hingga terpaksa berutang. Hampir tengah malam, Marsilia masih terjaga meski
siangnya hilir mudik mengais beberapa puluh ribu rupiah. Ia tak bergaji.
Profesi Marsilia tak mentereng lantaran hanya mengojek dengan honor
seikhlasnya. Ia mengantar penumpang dari Pamulang ke Pondok Aren, Tangsel,
Banten, Minggu (14/4) pukul 10.00. Marsilia menerima upah Rp 50.000. Ia
langsung tancap gas mengambil bahan kebutuhan pokok atau sembako di lokasi
pembagian yang tak jauh dari situ. Maklum, terlambat sedikit saja, semua
kantong sembako bakal ludes. Paket gratis itu untuk para penghuni pantinya. Ia
dengan semringah menunjukkan 4 kg beras, 1 kg gula, 2 liter minyak goreng, dan
1 kg terigu yang ia peroleh.
Demi honor ala kadarnya, ia sesekali membantu warga mengurus
akta kelahiran, memperpanjang STNK, sampai ikut lintang pukang menolong suami
istri tak mampu yang dimintai uang untuk memiliki KTP. ”Dikasih berapa,
terserah, aku enggak minta. Kalau mesti bolak-balik, yang penting sepeda
motorku diisi bensin” ucapnya. Saat ini, panti diisi lima penghuni atau pasien.
Marsilia juga melayani 17 warga yang rutin ke rumah sakit, kontrol sebulan
sekali. Mereka yang dirawat datang dan pergi, tetapi ia sudah menebarkan
kepedulian kepada 2.000 orang mengacu pada rekam medis yang disimpannya. ”Banyak
yang hanya diserahkan polisi, kemudian kupulangkan. Biasanya, pengemis,
pemulung, dan gelandangan,” katanya. Marsilia sudah menjadi pengayom
orang-orang terbuang sejak 2003. Perawatan setiap pasien mengandalkan iuran kerabatnya.
Jumlah ideal untuk tiap pasien sebenarnya Rp 3,5 juta per bulan. Keluarga hanya
diminta Rp 1,5 juta, itu pun banyak yang kerap menunggak atau mencicil
seadanya.
Beberapa dari mereka menyetor Rp 100.000 atau Rp 200.000,
tetapi rutinitasnya tak menentu. ”Aku enggak bisa maksa. Mereka miskin, makan
saja susah. Kalau gratis, aku enggak sanggup. Pasti banyak yang, istilahnya,
melempar pasien. Dananya enggak ada,” tuturnya. Ia pun tak segan membuatkan
kartu BPJS untuk mereka yang tersisihkan. Marsilia mengelola yayasan diawali
panggilan pegawai puskesmas mengenai ODGJ, sementara ayahnya angkat tangan.
”Enggak ngerti mengurusnya. Biaya perawatannya jutaan rupiah,” ujarnya. Ia
membantu mendapatkan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang berlanjut dengan
mendirikan yayasan. Marsilia malah pernah dikerjai orang yang dipercaya
mengasuh pengidap skizofrenia. Ia terus dimintai uang dengan dalih untuk
memenuhi macam-macam kebutuhan pasien. Ia mendirikan LSM Marcilea Foundation
tahun 2010. Hunian untuk bernaung pun berubah dari rumah singgah menjadi panti.
”Sekarang, namanya Yayasan Marcilea Peduli Sosial, artinya
sama-sama semanggi,” ucapnya. Ia enggan membubuhkan namanya karena tak mau
yayasan dianggap milik pribadi dengan pertimbangan siapa pun bisa bergabung
untuk membantu. Marsilia tak paham tentang yayasan hingga biaya pembuatannya
pun dibayari beberapa notaris. ”Butuhnya Rp 1,5 juta, tapi mending buat merawat
gelandangan. Notaris-notaris yang peduli ngumpulin uang dan KTP,” katanya. Sudah
demikian sering Marsilia pindah kontrakan. Ia dan pasien-pasiennya pernah
bermukim di Anyer, Serang, Banten, tahun 2020. ”Aku tempati karena gratis.
Setelah setahun, ke Sukabumi, Jabar, terus balik ke Tangsel,” katanya. Ia
beberapa kali dibantu anggota DPR, Ribka Tjiptaning, dengan meretas birokrasi
berbelit-belit, disediakan wisma, dan meminjam sepeda motor. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023