Harapan dari Kunjungan CEO Apple
Kunjungan CEO Apple untuk bertemu Presiden Jokowi, pekan ini,
diharapkan berujung pada keputusan Apple menjadikan Indonesia basis manufakturnya
untuk pasar global. Sebelumnya, investasi Apple di Indonesia hanya sebatas membangun
Apple Developer Academy di sejumlah daerah, bukan manufaktur. Artinya,
Indonesia hanya menjadi pasar bagi salah satu pabrikan ponsel pintar terbesar
di dunia itu. Kalangan pengamat mengatakan, Indonesia perlu belajar dari
Vietnam untuk bisa masuk ke dalam rantai pasok global Apple (Kompas.id,
17/4/2024). Sebagai pemain baru, Vietnam cepat melesat jadi primadona baru
investasi manufaktur di kawasan, setelah China. Korporasi multinasional (MNCs)
berebut berinvestasi di negara itu.
Beberapa dari mereka bahkan menjadikan Vietnam pusat penelitian
dan pengembangan strategis produk. Dengan produksi 233,7 juta unit, Vietnam
adalah produsen ponsel pintar ketujuh terbesar dunia pada 2021. Sebanyak 60 % produksi
Samsung di seluruh dunia diproduksi di Vietnam. Kalaupun kini banyak investor
besar berkomitmen investasi di kawasan industri baru Indonesia, kita meyakini potensi
kita jauh lebih besar seandainya sejak awal kita lebih serius membenahi
kelemahan mendasar yang kita miliki. Penting bagi Indonesia mengatasi
ketertinggalan dalam partisipasi di rantai pasok/nilai global (GVC) di berbagai manufaktur
barang dan jasa, meliputi produksi ponsel pintar, produk elektronik lain, dan
teknologi informasi.
Lebih dari 25 % lapangan kerja di ASEAN terkait GVC dan lebih
dari 25 % ekspor barang ASEAN disumbang produk elektronik. Vietnam, Thailand, Kamboja,
dan Laos menunjukkan peningkatan pesat sejak 2000, sementara Indonesia relatif stagnan.
Rendahnya partisipasi Indonesia di GVC tecermin, dari hanya 10 % lapangan kerja
kita yang terkait GVC. Sebagai perbandingan, Singapura 50 %. Meski investasi
MNCs di industri elektronik Indonesia sudah dimulai sejak 1980-an, hingga kini
Indonesia kesulitan menembus rantai pasok/nilai global. Absennya industri komponen
lokal yang kuat membuat kita tertinggal dalam integrasi ke rantai pasok global.
Belum lagi bicara iklim investasi dan regulasi. Saatnya kita berbenah. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023