Merayakan Kehadiran Para Pendatang di Palangka Raya
Bagi sebagian orang, tahun ini bisa jadi pengalaman pertama
bertualang di tanah seberang. Di Palangka Raya, Kalteng, kisah itu juga dirayakan.
Agus (23) asal Purwokerto, Jateng. Saat bulan puasa, dia datang diundang
kerabatnya. Kemampuan Agus membuat martabak atau terang bulan menjadi daya
tariknya. ”Katanya ke sini (Palangka Raya) saja, di sini yang beli banyak,”
ujar Agus, mengingat percakapan dengan kerabatnya, Kamis (18/4). Agus pun
menggunakan sisa tabungan untuk ongkos ke Palangka Raya. Tak butuh lama, Agus
dipercaya berjualan di Jalan Rajawali, Palangka Raya.
Sehari bekerja, ia mendapat penghasilan bersih Rp 100.000. Sejauh
ini, Agus kerasan. Baru seminggu bekerja, misalnya, dia sudah punya pembeli
setia. Dia bahkan diajak membuka usaha martabak sendiri. Namun, tawaran itu
tidak bisa diterima Agus. Dia tidak enak hati karena baru saja bekerja. Dewi
Kartika (40), perempuan asal Bandung, Jabar, sudah merasakan kehangatan
Palangka Raya selama 15 tahun. Salah satu yang diingat pemilik kedai kopi itu
adalah saat mendapat kemurahan hati pemilik kontrakan rumahnya ketika baru
mulai berwirausaha di Palangka Raya. ”Selama dua bulan saya tinggal gratis di
kawasan Kereng Bangkirai. Baru di bulan ketiga bisa bayar, itu juga semampunya,”
kenang Dewi yang akrab dipanggil Acil
Teteh. Acil dalam bahasa setempat berarti ’bibi’. Sutarno,
suami Dewi, juga punya sebutan ”sayang”. Lelaki asal Jatim itu dipanggil paman
atau amang. Sebutan pedagang di Kalteng. Belasan tahun di Palangka Raya, Dewi
dan Sutarno merasa diterima. Semua tanggapan miring soal tanah Kalimantan tidak
mereka hiraukan. Konflik Sampit tahun 2001 jadi pemicunya. Pj Wali Kota Palangka
Raya Hera Nugrahayu mengatakan, Filosofi mulia rumah panjang, ikut menjadikan
Kota Palangka Raya dan Kalteng sebagai rumah untuk semua orang dengan berbagai
latar belakang. Di Kota Palangka Raya, nilai-nilai toleransi dalam beragama telah
dibuktikan dengan saling dukung dalam menghargai segala perbedaan.
”Contohnya, pada Safari Ramadhan dan Safari Natal yang
menjadi agenda rutin Pemkot Palangka Raya, ada penguatan pada tiap-tiap umat
yang merayakan,” ujar Hera. Pengamat ekonomi dari Universitas Palangka Raya,
Fitria Husnatarina, melihat kehadiran pendatang sebaiknya dipandang sebagai hal
positif. Salah satunya kejelian memanfaatkan peluang ekonomi. Kiprah pendatang,
kata Fitria, juga perlu dilihat sebagai bentuk harmonisasi. Mereka yang sudah
puluhan tahun tinggal di sini ataupun mereka yang baru selalu diterima dengan
hangat. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023