Demi Mudik dan Balik yang Membaik
Keriuhan arus mudik dan arus balik Lebaran 2024 sudah nyaris tuntas. Masih ada sisa arus balik dalam beberapa hari ke depan. Akan tetapi, sebagaimana perkiraan semula, kemungkinan besar puncak arus balik sudah terlampaui. Secara umum kita menyaksikan proses mudik dapat dikatakan cukup lancar. Dengan perkiraan ada pergerakan 193 juta orang selama mudik, maka kelancaran yang terlihat tentu layak disyukuri. Proses mudik kali ini relatif terjaga. Selain karena berbagai persiapan dan kesiagaan yang dilakukan oleh semua pihak, ini juga karena periode libur dan cuti bersama yang relatif cukup panjang sebelum hari Lebaran. Dengan demikian, mobilitas selama arus mudik relatif lebih menyebar.
Pada H-1 Lebaran pun jalan tol trans-Jawa sudah tampak sepi. Ada beberapa catatan yang mengemuka selama arus mudik. Hal yang paling menonjol adalah kecelakaan di jalur contra-flow jalan tol (serta beberapa kecelakaan lain di jalan tol) dengan korban yang fatal, serta antrean padat pada jalur penyeberangan di Merak. Sepantasnya hal di atas menjadi bahan evaluasi tersendiri bagi pihak-pihak terkait, termasuk menyangkut pengaturan contra-flow di jalan tol, penyelenggaraan angkutan umum semacam travel selama Lebaran, dan pemakaian sistem online dalam antrean kendaraan. Apabila kita telisik lebih jauh, setidaknya ada empat hal yang perlu menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan kegiatan mudik dan arus balik yang terus membaik.
Empat hal itu meliputi keselamatan, kelancaran, ketersediaan, dan keterjangkauan. Pertama, keselamatan. Keselamatan adalah hal terpenting yang perlu dijaga oleh semua pihak. Hal ini berlaku untuk transportasi darat, laut, maupun udara. Kedua, kelancaran. Selama beberapa tahun terakhir kita menyaksikan sudah banyak perbaikan terkait dengan kelancaran arus kendaraan selama mudik. Ketiga, ketersediaan. Ketersediaan yang dimaksud di sini adalah ketersediaan kendaraan dan angkutan umum. Banyaknya orang yang memerlukan kendaraan dalam waktu singkat kadang kala tidak diimbangi dengan kapasitas sarana transportasi yang mencukupi. Keempat, keterjangkauan. Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan dapat menimbulkan lonjakan harga sehingga menjadi kurang terjangkau bagi sebagian konsumen.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023