Bisnis Makanan Tetap Bertahan
Bisnis waralaba bernama Raja Cendol yang Danu Sofwan kembangkan terancam kolaps setelah angka penjualan turun drastis. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota membuat usaha makanan dan minuman nyaris kolaps. Menurut Danu, waralaba yang dia geluti selama lima tahun terakhir sangat mengandalkan penjualan konvensional alias melalui gerai. PSBB pun membuat anjlok penjualan pada 800 outlet Raja Cendol, yang biasanya bisa mencetak omzet Rp 1,2 miliar sebulan. Danu pun mengerahkan karyawan dan mitra waralaba untuk menjajal penjualan secara online. Omzet Raja Cendol perlahan pulih. Terlebih berdagang di gerai online membuat usahanya kian efisien karena tak perlu membayar biaya sewa gedung.
Hal serupa dilakukan Muhammad Rifky Saleh, pemilik Selawaktu Coffee, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Saat berjualan di gerai online, Rifky bahkan membuat inovasi baru, yaitu membuat kopi ukuran kemasan jumbo yang harganya lebih murah. Pengusaha kuliner lain yang berinovasi ialah Eka Sopian, pemilik gerai Ayam Penyet Si Jagur Bandung. Kini, Eka menjual produk ayam penyet beku yang siap digoreng. Dari inovasi tersebut, Eka bisa menyelamatkan perusahaannya. Marketing Manager Es Teler 77, Arlene Clarissa, mengatakan Es Teler 77 juga mengubah arah bisnisnya menjadi penyedia bahan makanan siap olah sejak akhir Maret lalu. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia,?Adhi S. Lukman, mengatakan kinerja industri makanan dan minuman tidak akan terpuruk dalam jika pelaku usahanya mau berinovasi. Pemerintah, kata dia, hanya perlu menjamin kontinuitas pasokan bahan baku, seperti daging sapi dan gula pasir.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023