Berlibur di Kampung Wisata Yogyakarta
Joko Nugroho (60) antusias menjelaskan arsitektur rumah
joglonya di Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta. ”Rumah ini dibangun tahun
1840. Sebagian besar bagiannya masih asli seperti dulu,” ujarnya, Senin (1/4). Rumah
Joko terletak di Kampung Alun-alun. Nama itu tersemat dari sejarah kampung yang
dulunya merupakan kawasan alun-alun atau lapangan terbuka Keraton Kerajaan
Mataram Islam. Cikal bakal Kesultanan Yogyakarta tersebut berdiri di Kotagede
pada tahun 1586. Saat pusat kerajaan dipindahkan Sultan Agung pada 1613 ke
daerah Kerta di Plered (kini Kabupaten Bantul), Alun-alun Kotagede menjadi
permukiman. Saat ini terdapat sembilan rumah yang masih dipertahankan kelestariannya
di Kampung Alun-alun, termasuk rumah Joko.
Keunikan arsitektur dan tata ruang kampung itu menjadi daya
tarik Kampung Wisata Purbayan. Wisatawan dapat menikmati tur keliling kampung
dengan pemandu wisata. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Mataram Islam pun lokasinya
berdekatan dengan Purbayan, terutama Masjid Gedhe Mataram dan Kompleks Makam
Raja-raja Mataram. Purbayan juga memiliki kekayaan budaya tak benda yang menambah
pesonanya. Salah satunya adalah keterampilan kerajinan perak yang melegenda di
Kotagede. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Purbayan, Nurcahyo Nugroho,
menambahkan, Purbayan meraih peringkat kedua kategori Desa Wisata Berkembang
dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2023. Purbayan juga menjadi salah
satu dari 75 desa wisata terbaik dalam ajang tahunan Kemenparekraf.
Di Kecamatan Kotagede, terdapat pula Kampung Wisata
Rejowinangun, yang memiliki lima kluster wisata, yakni edukasi agro, herbal, kerajinan,
budaya, dan kuliner. Ketua Pokdarwis Rejowinangun Dadik Rahmanto menjelaskan,
kluster agro mengajak wisatawan mempelajari berbagai tanaman hias, sayur, dan
buah yang dibudidayakan warga. Kluster herbal mengusung jamu tradisional dan
kluster kuliner menyajikan jajanan pasar Yogyakarta. Adapun kluster kerajinan
menyuguhkan aktivitas pembuatan belangkon, wayang kulit, dan rajutan. Terakhir,
kluster budaya menawarkan pertunjukan tarian tradisional, wayang, dan gamelan. Dadik
menambahkan, pihaknya juga bekerja sama membuat paket wisata gabungan dengan
Gembira Loka Zoo, kebun binatang di kelurahan tersebut. ”Wisatawan bisa
menikmati sejumlah kluster wisata di Rejowinangun, kemudian mengunjungi Gembira
Loka,” ucapnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023