;

Orang Kaya Rusia Makin Sejahtera

Ekonomi Yoga 04 Apr 2024 Kompas
Orang Kaya Rusia Makin Sejahtera

Setelah terkena sanksi Barat, Rusia tak lantas runtuh. Jalanan Moskwa dan Sochi menjadi saksi saat mobil-mobil mewah produk Eropa justru memadatinya, seolah menggusur Lada, merek lokal yang puluhan tahun mendominasi setiap jengkal aspal negeri itu. Merujuk majalah Forbes, Selasa (2/4) kekayaan konglomerat Rusia justru bertambah 72 miliar USD atau Rp 1,1 kuadriliun dalam setahun terakhir. Jika digabungkan, kekayaan kolektif orang-orang terkaya di Rusia menjadi 577 miliar USD atau Rp 9,2 kuadriliun. Kekayaan mereka bertambah karena memasok logam, bahan kimia, dan aneka kebutuhan militer untuk perang di Ukraina.

Di Rusia, status orang terkaya dipegang Vagit Alekperov dengan kekayaan 28,6 miliar USD. Ia merupakan mantan Dirut Lukoil, raksasa minyak Rusia. Ia juga menempati peringkat ke-59 daftar orang terkaya sedunia. Alekperov dan banyak konglomerat Rusia menikmati hasil kenaikan harga komoditas di tengah serbuan Rusia ke Ukraina. Aneka sanksi Barat pada Rusia ternyata tidak berdampak pada mereka. Setahun sebelum Rusia menyerbu Ukraina, Forbes mencatat akumulasi kekayaan konglomerat Rusia bernilai 606 miliar USD. Para miliarder itu pernah disebut akan kehilangan banyak aset seiring sanksi Barat pada Rusia.

Memang ada penurunan drastis aset miliarder Rusia pada 2022. Akumulasi kekayaan mereka menjadi 353 miliar USD saja. Setahun setelah perang, Rusia beradaptasi dan pulih. Alekperov salah satu bukti pemulihan itu. Dari 20,5 miliar USD pada 2022, kekayaannya bertambah 8,1 miliar USD sepanjang 2023. Memang, tidak semua miliarder Rusia bertambah kekayaannya. Raja pupuk Rusia, Andrei Melnichenko, kehilangan kekayaan 4,1 miliar USD sepanjang tahun lalu. Kini, kekayaannya tinggal 21,1 miliar USD. Pupuk adalah salah satu komoditas Rusia yang diembargo Barat. Ekspor pupuk Rusia terhambat dan berdampak pada orang seperti Melnichenko. Kekayaan Rusia tidak hanya minyak dan gas bumi. Rusia juga punya banyak sumber daya lain.

Karena itu, Putin berulang kali sesumbar bahwa sanksi Barat tidak akan mampu menekan perekonomian Rusia. Buktinya, pertumbuhan ekonomi Rusia tetap baik, terutama ditopang produksi persenjataan. Dana Moneter Internasional menaksir PDB Rusia akan tumbuh 2,6 % pada 2024. Keligatan orang Rusia menyiasati sanksi ditunjukkan oleh daftar konglomerat versi Forbes. Ada nama-nama baru dan sebagian nama lama yang melejit kekayaannya. Resep lonjakan itu adalah pengambilalihan bisnis Barat. Sanksi membuat sejumlah perusahaan asing meninggalkan bisnisnya di Rusia. Banyak bisnis itu dijual murah kepada orang Rusia. Padahal, potensi pendapatannya tetap sama. Bisnis makanan, farmasi, hingga bahan bangunan ditinggal pebisnis asing. Pebisnis Rusia mengambil alih, lalu mendapat untung dari transaksi itu. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :