Orang Kaya Rusia Makin Sejahtera
Setelah terkena sanksi Barat, Rusia tak lantas runtuh. Jalanan
Moskwa dan Sochi menjadi saksi saat mobil-mobil mewah produk Eropa justru
memadatinya, seolah menggusur Lada, merek lokal yang puluhan tahun mendominasi
setiap jengkal aspal negeri itu. Merujuk majalah Forbes, Selasa (2/4) kekayaan
konglomerat Rusia justru bertambah 72 miliar USD atau Rp 1,1 kuadriliun dalam
setahun terakhir. Jika digabungkan, kekayaan kolektif orang-orang terkaya di
Rusia menjadi 577 miliar USD atau Rp 9,2 kuadriliun. Kekayaan mereka bertambah
karena memasok logam, bahan kimia, dan aneka kebutuhan militer untuk perang di
Ukraina.
Di Rusia, status orang terkaya dipegang Vagit Alekperov dengan
kekayaan 28,6 miliar USD. Ia merupakan mantan Dirut Lukoil, raksasa minyak
Rusia. Ia juga menempati peringkat ke-59 daftar orang terkaya sedunia. Alekperov
dan banyak konglomerat Rusia menikmati hasil kenaikan harga komoditas di tengah
serbuan Rusia ke Ukraina. Aneka sanksi Barat pada Rusia ternyata tidak berdampak
pada mereka. Setahun sebelum Rusia menyerbu Ukraina, Forbes mencatat akumulasi
kekayaan konglomerat Rusia bernilai 606 miliar USD. Para miliarder itu pernah
disebut akan kehilangan banyak aset seiring sanksi Barat pada Rusia.
Memang ada penurunan drastis aset miliarder Rusia pada 2022.
Akumulasi kekayaan mereka menjadi 353 miliar USD saja. Setahun setelah perang,
Rusia beradaptasi dan pulih. Alekperov salah satu bukti pemulihan itu. Dari
20,5 miliar USD pada 2022, kekayaannya bertambah 8,1 miliar USD sepanjang 2023.
Memang, tidak semua miliarder Rusia bertambah kekayaannya. Raja pupuk Rusia, Andrei
Melnichenko, kehilangan kekayaan 4,1 miliar USD sepanjang tahun lalu. Kini, kekayaannya
tinggal 21,1 miliar USD. Pupuk adalah salah satu komoditas Rusia yang diembargo
Barat. Ekspor pupuk Rusia terhambat dan berdampak pada orang seperti
Melnichenko. Kekayaan Rusia tidak hanya minyak dan gas bumi. Rusia juga punya
banyak sumber daya lain.
Karena itu, Putin berulang kali sesumbar bahwa sanksi Barat
tidak akan mampu menekan perekonomian Rusia. Buktinya, pertumbuhan ekonomi
Rusia tetap baik, terutama ditopang produksi persenjataan. Dana Moneter
Internasional menaksir PDB Rusia akan tumbuh 2,6 % pada 2024. Keligatan orang
Rusia menyiasati sanksi ditunjukkan oleh daftar konglomerat versi Forbes. Ada
nama-nama baru dan sebagian nama lama yang melejit kekayaannya. Resep lonjakan
itu adalah pengambilalihan bisnis Barat. Sanksi membuat sejumlah perusahaan
asing meninggalkan bisnisnya di Rusia. Banyak bisnis itu dijual murah kepada orang
Rusia. Padahal, potensi pendapatannya tetap sama. Bisnis makanan, farmasi, hingga
bahan bangunan ditinggal pebisnis asing. Pebisnis Rusia mengambil alih, lalu
mendapat untung dari transaksi itu. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023