KOMODITAS MINERAL LOGAM : MENYIBAK PROBLEM TAMBANG TIMAH
Komoditas Timah mengawali 2024 dengan situasi yang kurang mengenakan. Lambatnya proses pengajuan dan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya badan usaha pertambangan timah dan persoalan hukum yang membelit industri tersebut membuat produksi komoditas itu anjlok. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru menyetujui 15 RKAB dari badan usaha pertambangan timah per 26 Maret 2024, dengan rencana produksi sebanyak 46.444 ton bijih timah pada tahun ini. Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Tri Winarno mengatakan bahwa rencana produksi dari 15 RKAB yang telah disetujui tersebut mengambil porsi 60%—65% dari kapasitas produksi timah secara keseluruhan sepanjang tahun lalu yang sekitar 74.000 ton bijih. Hal itu membuat Kementerian ESDM terus mendorong badan usaha pertambangan timah untuk segera menyelesaikan penyusunan RKAB. Malahan, pemerintah juga secara aktif menggelar coaching clinic untuk membantu perusahaan menyelesaikan dokumen RKAB.
Selain persoalan RKAB, terkoreksinya rencana produksi bijih timah pada tahun ini turut disebabkan oleh dugaan kasus rasuah terkait dengan izin usaha pertambangan (IUP) PT Timah Tbk. (TINS) yang sampai saat ini masih didalami oleh Kejaksaan Agung. Kejaksaan Agung bersama dengan ahli lingkungan bekerja sama menghitung luas lahan yang telah dibuka dalam kasus dugaan korupsi komoditas timah di IUP TINS. Hasilnya, seluas 170.363 hektare lahan yang telah dibuka.Ahli lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo mengatakan bahwa total luas lahan tersebut dibagi menjadi dua galian tambang yang berada di kawasan hutan dan non-hutan. Tidak hanya itu, Kejaksaan Agung bersama dengan ahli juga telah mengalkulasi kerugian ekologis dari dugaan korupsi tata niaga komoditas timah tersebut mencapai Rp271 triliun. TINS sendiri menargetkan produksi bijih timah naik ke level 30.000 ton dalam RKAB tahun ini. Rencana produksi itu lebih tinggi dibandingkan dengan RKAB tahun sebelumnya yang berada di kisaran 26.000 ton bijih timah. “RKAB sudah terbit, kami sudah buka ekspor,” kata Direktur Utama TINS Ahmad Dani Virsal saat ditemui di DPR. Dari perkiraan produksi itu, TINS rencananya bakal mengalokasikan porsi 5% sampai dengan 8% untuk penjualan domestik. Sisanya, bakal dialihkan untuk pasar ekspor dengan target mampu tumbuh 1%. Dalam kesempatan itu, Dani pun memastikan TINS bakal berhati-hati menyikapi ihwal rencana akomodasi tambang masyarakat untuk dibeli TINS. Perseroan bakal menunggu izin pertambangan rakyat (IPR) dari sejumlah wilayah pertambang rakyat (WPR) yang telah terpetakan oleh pemerintah hingga saat ini.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023