Sasi Menjaga Keseimbangan Pelestarian Ekologi dan Pemanfaatan Ekonomi
Pembukaan sasi laut oleh Kelompok Perempuan Waifuna di Kampung
Kapatcol, Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, memperoleh hasil
melimpah. Dengan membatasi akses penangkapan serta alat tangkap dalam kawasan
dan jangka waktu tertentu, tradisi sasi ini menjaga keseimbangan pelestarian
ekologi dan pemanfaatan ekonomi. Buka sasi di perairan sisi barat Kampung
Kapatcol itu dimulai Senin (25/3). Hingga Rabu sore, buka sasi telah
menghasilkan 1.138 teripang, 599 lola, dan 20 lobster. Sasi di kawasan seluas
213 hektar itu dibuka setelah ditutup selama hampir satu tahun.
Keterlibatan kelompok perempuan atau mama-mama di Kapatcol
dalam mengelola sasi dimulai sejak 2011, didampingi Yayasan Konservasi Alam
Nusantara (YKAN) untuk mengelola laut secara berkelanjutan. Koordinator Program
Bentang Laut Kepala Burung YKAN Awaludinnoer mengatakan, hasil buka sasi tahun ini
menjadi yang terbanyak sejak 2011. Penangkapan biota laut saat buka sasi
dilakukan dengan menyelam secara tradisional. Warga langsung menangkapnya
dengan tangan atau menggunakan tombak dan gate-gate (alat penangkap lobster
berbahan nilon).
Saat menyelam, mereka memakai kacamata renang, snorkel, dan fins.
Hanya teripang dengan panjang 15 cm atau lebih yang boleh diambil. Untuk lola
dengan ukuran 7 cm ke atas. Sementara lobster dengan berat lebih dari 5 ons. Tangkapan
yang tidak sesuai ketentuan ukuran tersebut dikembalikan ke laut. Awaludinnoer
menuturkan, pembatasan tangkapan berdasarkan ukuran dilakukan agar pemanfaatan
laut dapat berkelanjutan. Dengan begitu, biota laut yang berukuran kecil dapat
dipanen pada buka sasi selanjutnya.
”Sekarang warga bisa memilah tangkapan yang layak diambil.
Mereka mengukurnya sendiri. Sekarang, mereka paham bagaimana agar hasil laut
bisa dimanfaatkan untuk jangka panjang,” ucapnya. Hasil buka sasi pada
Senin-Rabu akan digunakan untuk keperluan berdasarkan kesepakatan kelompok mama-mama.
Setelah itu, warga dapat mengambil hasil laut untuk keperluan lainnya sebelum
sasi kembali ditutup sekitar dua pekan ke depan. Sebelum dijual,teripang
direbus, diasapi, dan dikeringkan. Teripang kering dihargai mulai dari Rp
50.000 per kg hingga di atas Rp 800.000 per kg, berdasarkan jenis dan
ukurannya. Sementara lobster dihargai sekitar Rp 200.000 per kg. Hampir semua
warga Kapatcol ikut memanen hasil sasi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023