TAKTIK CUAN BANK TAIPAN
Peluang para konglomerat untuk kembali meraup untung jumbo dari kepemilikan bisnis bank pada tahun ini terbuka lebar. Dukungan ekosistem konglomerasi yang selaras dengan strategi dari masing-masing bank menjadi faktor pendorong.Mayoritas bank yang tergabung dalam grup konglomerasi telah mengumumkan kinerja keuangan 2023. Hasilnya, sebagian besar memperlihatkan peningkatan laba bersih yang cukup signifikan dibandingkan dengan 2022.PT Bank Jago Tbk., misalnya, sukses mencetak pertumbuhan paling tinggi dibandingkan dengan bank konglomerat lainnya. Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung mengatakan, pertumbuhan nasabah bertumpu pada konsistensi inovasi dan kolaborasi yang erat dengan ekosistem digital grup GoTo. Menurutnya, strategi ini menjadi keunggulan strategis perseoran. “Kolaborasi dengan mitra strategis kami, termasuk GoTo, menjadi pintu masuk nasabah untuk mengakses produk dan layanan perbankan Jago,” tuturnya, Jumat (22/3).Kinerja positif di lini perbankan digital turut dialami PT Bank Digital BCA. Bank yang dimiliki oleh keluarga Hartono atau Grup Djarum ini sukses membalikkan rugi sebesar Rp71,6 miliar pada 2022, menjadi laba Rp46,05 miliar pada 2023. Head of Corporate Planning BCA Digital Yoga Halim mengungkapkan, perseroan menargetkan pertumbuhan laba yang relatif konservatif pada tahun ini. “Target profi t pasti meningkat, tetapi kami tidak berani terlalu tinggi karena pada 2024 banyak tantangan. Pemilu juga baru selesai,” jelasnya.Sementara itu, induknya yakni PT Bank Central Asia Tbk., (BCA) berhasil meraih laba Rp48,64 triliun pada 2023, tertinggi di antara bank milik konglomerat lainnya. Angka ini melonjak hampir 20% Yo Y. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja optimistis, target pertumbuhan kredit hingga 11% pada tahun ini dapat dicapai. "[Likuditas] cukup untuk kredit growth, [untuk memenuhi] kebutuhan masyarakat juga cukup," tuturnya.Di tengah kinerja moncer tersebut, sayangnya tidak semua bank mengalami nasib yang sama.
PT Bank Mega Tbk., milik pengusaha Chairul Tanjung justru mengalami penurunan laba. Pada 2023, laba Bank Mega turun 13,4% YoY menjadi Rp3,51 triliun.
Corporate Secretary Bank Mega Christiana Damanik mengatakan, pada tahun ini perseroan bakal melakukan refocusing strategi bisnis untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Pertama, dengan menggenjot dana pihak ketiga (DPK) yang menyasar nasabah ritel. Kedua, menyalurkan kredit dengan asas kehati-hatian untuk segmen korporasi, kartu kredit, dan pembiayaan multifi nance. Ketiga, Bank Mega turut menyasar perluasan basis pendapatan komisi (fee based income). Keempat, meningkatkan efi siensi melalui transformasi teknologi informasi.
Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai mengilapnya bisnis bank milik para taipan karena dukungan permodalan dan jaringan yang kuat.
Sementara itu, ekonom Aviliani menyatakan perkembangan bank-bank milik konglomerat cukup baik lantaran saat ini terdapat kewajiban mengukur risiko terintegrasi. “Jadi, mau tidak mau harus dikonsolidasikan. Ini bagus untuk menjaga aktivitas di antara anak usaha,” katanya.
Adapun, Analis Maybank Sekuritas Indonesia Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad, memproyeksikan kredit industri perbankan dapat tumbuh sebesar 10%, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yakni 10%—12%.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023