;

MENADAH MODAL INVESTOR GLOBAL

Ekonomi Hairul Rizal 19 Mar 2024 Bisnis Indonesia (H)
MENADAH MODAL INVESTOR GLOBAL

Kuda-kuda Indonesia berada pada posisi yang kokoh untuk menampung limpahan modal dari investor global, baik pada investasi langsung sektor riil maupun investasi portofolio. Beberapa katalis pun mampu menguatkan pijakan pemangku kebijakan untuk lebih kuat menarik aliran modal. Apalagi, realisasi pada 2023 dan perkembangan sepanjang tahun berjalan 2024 cukup mendukung. Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia misalnya. Dari data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) kemarin, Senin (18/3), PII Indonesia pada kuartal IV/2023 mencatat kewajiban neto US$260,3 miliar, naik dibandingkan dengan kuartal III/2023 yang senilai US$251,9 miliar. Kenaikan ini menggambarkan adanya arus modal masuk yang cukup besar. Kenaikan kewajiban neto PII menandakan investasi yang masuk ke Indonesia dari investor global jauh lebih besar dibandingkan dengan modal yang ditanamkan investor domestik di pasar global. Pada saat bersamaan, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga mencatat ada banyak rencana realisasi investasi yang bakal dieksekusi oleh investor dalam waktu dekat. Tak ayal, otoritas penanaman modal pun menyasar porsi penanaman modal asing (PMA) pada tahun ini sebesar 52% atau setara Rp858 triliun dari total target senilai Rp1.650 triliun. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, mengatakan saat ini beberapa perusahaan yang kemarin wait and see belum mau melakukan investasi sudah mulai menyampaikan akan segera melakukan groundbreaking. Tak hanya merealisaikan komitmen yang telah dicanangkan sebelumnya, arus modal juga cukup deras menyasar proyek Peta Peluang Investasi (PPI) yang disusun pemerintah. Dari 81 proyek PPI senilai Rp239 triliun, jumlah yang akan melakukan groundbreaking pada tahun ini mencapai 29 proyek. Dari sisi investasi portofolio, Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, meyakini kinerja PPI Indonesia tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi yang didukung sinergi kebijakan antarinstansi guna memperkuat ketahanan sektor eksternal. Optimisme BI bukannya tanpa alasan. 

Pada kuartal IV/2023, Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) atau pasiva penduduk terhadap bukan penduduk baik dalam valuta asing maupun rupiah, mencatatkan kenaikan yang signifikan. Adapun, posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) alias aktiva penduduk terhadap bukan penduduk baik dalam valuta asing maupun rupiah kuartal IV/2023 sebesar US$484,6 miliar, naik 4,1% dari US$465,4 miliar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Meski mendapatkan angin segar, pemerintah pun tetap mewaspadai adanya faktor yang berisiko mengaburkan skenario pencapaian target investasi tersebut, terutama yang bersumber dari perlambatan ekonomi China. Kalangan pelaku usaha pun mewanti-wanti pemangku kebijakan untuk konsisten menjaga stabilitas di dalam negeri sehingga mampu mencegah guncangan. Pelaksana Tugas Harian Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan peningkatan konsumsi domestik menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang juga akan memengaruhi masuknya modal. Di sisi lain, dia memandang ada sentimen positif dari sisi domestik mengenai kondusifnya iklim usaha pascapemilu yang menjadi faktor penguat kepercayaan investor. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, mengatakan sejalan dengan rencana penurunan suku bunga acuan di AS ada potensi capital outflow di pasar surat utang terutama pada semester II/2024. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, menyarankan pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur, efisiensi logistik, serta penajaman peluang investasi.

Download Aplikasi Labirin :