Lampu Kuning Kondisi Keuangan BUMN Energi
JAKARTA. Tiga BUMN energi: PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk, sedang ketir-ketir. Kelesuan ekonomi akibat wabah korona bakal menekan aktivitas bisnis dan kinerja keuangan mereka. Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) secara virtual dengan Komisi VII DPR Rabu (22/4) mengungkapkan bahwa PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero), berpotensi kehilangan pendapatan hingga Rp 44 triliun akibat anjloknya permintaan listrik, terutama dari pelanggan sektor industri dan subsidi. Di saat yang sama, perusahaan harus membayar utang jatuh tempo sekitar Rp 35 triliun. Oleh Sebab itu, pihaknya sedang bernegosiasi kepada kreditur agar bisa melakukan penataan atau reprofiling utang.
Keluhan serupa juga diungkapkan Direktur Keuangan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), Arie Nobelta Kaban menerangkan, Kebijakan penurunan harga gas industri serta penurunan permintaan gas oleh PLN bisa berdampak terhadap penurunan laba PGAS pada tahun ini. Pertamina pun bernasib sama. Penurunan harga minyak mentah di pasar global semakin memperberat kondisi keuangan mereka. Dalam RKAP 2020, Pertamina memasang target pendapatan senilai US$ 58,3 miliar. Jika skenario berat terjadi, maka pendapatan Pertamina pada tahun ini hanya US$ 22,36 juta. Di sisi lain, Pertamina punya obligasi global US$ 1 miliar yang jatuh tempo pada 23 Mei 2021. Namun Pertamina tetap berkomitmen menyelesaikan seluruh kewajiban, termasuk obligasi yang jatuh tempo satu tahun lagi sebagaimana dikatakan Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023