;

Dampak Kemenangan Telak Putin

Ekonomi Yoga 21 Mar 2024 Kompas
Dampak Kemenangan Telak Putin

Vladimir Putin menang telak dalam pemilu di Rusia, 15-17 Maret 2024. Dari 99,76 % suara yang dihitung, Putin meraih 87,33 % suara, jauh meninggalkan rivalnya. Nikolay Kharitonov dari Partai Komunis di tempat kedua dengan 4,3 %. Tingkat partisipasi kali ini 73,33 % dari 114 juta daftar pemilih tetap. Ini kemenangan terbesar Putin sejak berkuasa tahun 2000. Kemenangan Putin, walau mencalonkan diri sebagai calon independen, tak lepas dari dukungan partai yang dia dirikan, yaitu United Russia. Partai ini mirip Golkar zaman Orde Baru (Orba). Saat ini United Party menguasai parlemen (Duma) dengan 334 kursi (72 %). Menurunnya dukungan terhadap Partai Komunis yang hanya mendapat suara 4,3 % menunjukkan bahwa generasi baru Rusia semakin jauh dari ideologi komunis. Banyak yang berpendapat Putin akan menjadi presiden seumur hidup. Seperti Soeharto ketika berkuasa, saat ini tak ada figur yang dapat menyaingi Putin.

Soeharto jatuh karena krisis ekonomi 1998 yang diikuti dengan gerakan anti-Orba yang dimotori para mahasiswa. Kelihatannya Putin berbeda mengingat ekonomi Rusia masih kuat, bahkan setelah mendapat sanksi paling keras dari Barat. Dalam pidato kemenangannya, Putin, mengatakan dia akan menyelesaikan operasi khusus dan memperkuat kapasitas pertahanan dan Angkatan Bersenjata Rusia. Artinya perang dengan Ukraina tak mengendur dan akan segera dituntaskan. Tanpa memperhitungkan komitmen NATO untuk membela Ukraina habis-habisan. Sulit diprediksikan kapan perang berakhir. Menurut teori perang, perang akan berakhir jika salah satu pihak bangkrut secara ekonomi. Ukraina secara teori sudah bangkrut, tapi berkat dukungan NATO sampai saat ini masih bertahan.

Sebaliknya, sanksi Barat yang sangat luar biasa ternyata tidak membuat Rusia bangkrut. Bahkan, menurut perkiraan IMF, ekonomi Rusia akan tumbuh 2,6 % tahun ini, menyusul pertumbuhan 2,25 % pada 2023. Menurut Statista Research Development, Rusia memiliki sumber daya alam terbesar di dunia senilai 75 triliun USD, mengalahkan AS 45 triliun USD. Artinya, sangat tak mungkin negeri sekaya Rusia akan bangkrut karena sanksi. Politik luar negeri Rusia diperkirakan tidak akan berubah banyak. Karena memiliki ”musuh bersama”, hubungan dengan China akan menjadi prioritas walau penuh kehati-hatian. China merupakan mitra dagang terbesar Rusia, dengan nilai perdagangan 240 miliar USD tahun 2023.

Kedua negara juga telah menandatangani perjanjian local currency settlement (LCS), atau pembayaran perdagangan menggunakan mata uang masing-masing, sehingga tidak bergantung pada USD. Rusia selalu menganggap Indonesia negara penting. Dalam forum-forum internasional, Soviet dan Rusia banyak membantu posisi Indonesia. Perdagangan kedua negara terus meningkat rata-rata 30-40 % dengan surplus di pihak RI. Demikian juga wisatawan Rusia yang masuk 10 besar dengan pengeluaran terbesar dan masa tinggal paling lama. Kemenangan Putin kian memberikan tingkat kepercayaan yang besar bagi Putin untuk melanjutkan politik konfrontasinya dengan Barat. Perang Rusia-Ukraina masih akan terjadi dan entah kapan akan selesai. Artinya, krisis ekonomi dunia masih menanti. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :