;

Mediasi Kasus Konflik Satwa dengan Manusia

Mediasi Kasus Konflik
Satwa dengan Manusia

Kepolisian Resor Lampung Barat bersama instansi terkait melakukan mediasi konflik antara manusia dan harimau sumatera yang berujung pada pembakaran kantor Resor Suoh Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Masyarakat diimbau menahan diri selama upaya penangkapan hewan buas itu. ”Kami prihatin atas kejadian yang menimpa korban. Namun, kami menyayangkan kejadian perusakan yang dilakukan warga. Kami minta masyarakat menjaga situasi kondusif karena saatini semua pihak tengah berusaha mencari binatang tersebut,” kata Kapolres Lampung Barat AKBP Ryky Widya Muharam, Selasa (12/3). Insiden pembakaran kantor Resor Suoh TNBBS di Kabupaten Lampung Barat, Lampung, terjadi Senin (11/3) sore.

Kejadian bermula saat Samanan (41), warga Pekon Sukamarga, Kecamatan Suoh, diserang harimau di kebun. Samanan adalah korban ketiga yang diserang harimau. Sebelumnya, dua warga Lampung Barat tewas akibat diterkam harimau pada Februari 2024. Korban yang mengalami luka pada bagian kepala dibawa ke puskesmas setempat. Massa yang marah kemudian bergerak menuju kantor Resor Suoh TNBBS dan membakar kantor milik pemerintah tersebut. Setelah insiden pembakaran kantor, aparat Polres Lampung Barat mengamankan lokasi. Masyarakat diimbau kembali ke rumah. Saat ini situasi sudah kondusif. Ryki mengatakan, masyarakat diminta bekerja sama dan mematuhi imbauan petugas untuk tidak beraktivitas sendirian di kebun.

Warga juga diminta tidak pergi ke kebun pada jam-jam aktif harimau, yakni pukul 15.00 hingga keesokan hari pukul 10.00. Jika ada yang bertemu harimau, warga diizinkan melakukan tindakan represif terhadap harimau untuk melindungi keselamatan dirinya. Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto mengatakan, kantor Resor Suoh yang selama ini menjadi tempat petugas kehutanan bekerja telah rata dengan tanah akibat dibakar massa. Barang-barang milik negara untuk bekerja, seperti laptop, printer, dan GPS, juga rusak dan tidak dapat digunakan kembali. Terkait konflik harimau dengan manusia, Ismanto menerangkan, harimau liar itu sebenarnya masih berada di hutan TNBBS yang merupakan habitatnya. Selama ini masyarakat masih beraktivitas di dalam habitat satwa liar. Ia menyebut, upaya penangkapan harimau dilakukan dengan memasang empat kandang di sejumlah lokasi. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :