KEBIJAKAN FISKAL, Jangan Melampaui Batas
Pekan lalu, Prabowo Subianto menghadiri acara Mandiri
Investment Forum. Berdasarkan penghitungan cepat (quick count) berbagai lembaga
survei, saat ini Prabowo bersama pasangannya, Gibran Rakabuming Raka, memimpin
perolehan suara. Jika perhitungan riil KPU uga menetapkan Prabowo sebagai pemenang
Pemilu 2024, ia akan dilantik sebagai presiden ke-8 Indonesia pada Oktober. Prabowo
berbicara bagaimana meningkatkan rasio pajak yang saat ini tergolong masih
rendah, yakni 10 % terhadap PDB, di bawah negara-negara peer Indonesia seperti
Malaysia, Vietnam, dan Thailand pada kisaran 16-18 %. Prabowo ingin mencapai
rasio pajak seperti negara-negara itu agar bisa membiayai belanja negara ke
depan, yang diprediksi akan membengkak.
Terkait rencana peningkatan belanja negara, tentu saja ini
menyangkut program unggulan Prabowo saat kampanye, yakni memberikan makan siang
dan susu gratis kepada anak-anak sekolah, para santri, ibu hamil, dan anak
balita di Indonesia. Namun, untuk membiayai program yang butuh anggaran besar
tersebut, Prabowo tak percaya diri hanya mengandalkan penerimaan dari
peningkatan rasio pajak. Prabowo menyinggung untuk menaikkan defisit anggaran
agar bisa membiayai program-programnya. Menurutnya target defisit anggaran di 2
% bisa dinaikkan hingga 2,8 %, yang penting, masih di bawah batas maksimum defisit
anggaran yang ditetapkan undang-undang, yakni 3 %.
Jika dibandingkan dengan penerimaan negara yang sekitar Rp
2.802 triliun dalam APBN 2024, rasio beban bunga terhadap penerimaan negara
telah mencapai 17,7 %. Artinya hampir seperlima dari penerimaan negara hanya
untuk membayar bunga utang. Jika rasionya semakin besar, tentu kemampuan
Indonesia melunasi utang akan menurun sehingga memperbesar potensi default. Sebenarnya
tidak salah jika Prabowo ingin menaikkan
belanja untuk membiayai program-programnya. Belanja negara yang meningkat tentu
bagus untuk mendorong perekonomian. Namun, langkah utama dan terbaik untuk
mendanai belanja adalah meningkatkan penerimaan, bukan memperbesar defisit dan
berutang besar-besaran. Seharusnya pendiri Partai Gerindra itu fokus bagaimana
meningkatkan rasio pajak. Jika benar rasio pajak bisa ditingkatkan ke level 16
%, itu sudah bisa menutup semua belanja yang diperlukan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023