Memupuk Modal untuk Bisnis ”Event Organizer"
Antusiasme khalayak terhadap sejumlah gelaran konser musik
ataupun ragam festival dalam beberapa waktu terakhir sangat tinggi. Salah satu indikatornya,
semua tiket pertunjukan ludes terjual hanya dalam hitungan jam, bahkan menit.
Setiap perhelatan di ruang publik juga selalu disesaki penonton atau peserta. Di
balik berbagai kegiatan itu, selalu ada peran EO (Event Organizer) yang pada
dasarnya bertugas menyelenggarakan acara. EO mengurusi semua aspek yang terkait
dengan acara, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, hingga pelaksanaan. Melihat
gemerlap dan semarak hasil kerja EO, timbul kesan bahwa untuk membangun bisnis
ini, dibutuhkan modal finansial yang besar.
Namun, Yan Sapto Arief, founder dari Step Up Indonesia, perusahaan
jasa yang bergerak di bidang event support system (sistem pendukung acara), tak
sepenuhnya sepakat dengan anggapan itu. Bagi dia, modal utama yang menjadi
prioritas dalam membangun bisnis EO adalah jaringan kerja atau networking. ”Dengan
networking yang baik, kita bisa dapatkan SDM yang kompeten, vendor tepercaya,
dan calon klien. Ketiga aspek tersebut menjadi modal yang lebih penting daripada
modal finansial,” ujarnya saat berbincang dengan Kompas di Jakarta, Kamis (7/3).
Saat sudah punya modal SDM, jaringan vendor, dan klien dengan
proyek yang sudah disepakati, modal finansial tak lagi dibutuhkan untuk membangun
bisnis EO. CEO sekaligus pendiri Step Up Indonesia, Edwardo Wattiheluw, menuturkan,
kultur masyarakat Indonesia yang gemar merayakan pencapaian sekecil apa pun
merupakan ceruk pasar jasa EO di Indonesia yang akan selalu ada. Bermodalkan
jaringan yang mereka miliki, Edo dan Arief menjadikan Step Up Indonesia sebagai
usaha berbadan hukum pada 2021, beriringan dengan penjajakan terhadap salah
satu perusahaan telekomunikasi dalam negeri sebagai klien pertama. Proyek yang
digodok adalah relaunching sekaligus konferensi pers sebuah aplikasi secara
daring, singkat kata, acara berlangsung sukses.
Ongkos produksi kala itu sudah terpenuhi dari klien. Margin
yang didapat dari proyek pertama ini digunakan untuk biaya operasional perusahaan.
”Kunci dari keberlanjutan proyek EO adalah selalu memberikan layanan terbaik ke
klien. Wajib hukumnya bagi EO untuk memelihara klien dengan jasa dan servis
terbaik yang dimiliki. Klien yang puas, baik dari sisi harga maupun kinerja,
pasti akan terus merekomendasikan jasa dari EO,” ujar Edo. Setelah tiga tahun
berselang, Step Up Indonesia sudah mengerjakan proyek dari sedikitnya 30 klien.
Perusahaan juga punya 10 karyawan tetap di bidang kreatif, sales, administrasi,
hingga keuangan. Selebihnya, terdapat puluhan pekerja lepas untuk tim show management
serta dokumentasi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023