ANIMO TINGGI AKSI KORPORASI
Penggalangan dana di pasar modal memang masih bergerak landai sepanjang 2 bulan pertama 2024. Namun, daftar panjang antrean IPO, rights issue, dan emisi obligasi, menjadi bukti bahwa animo korporasi berburu dana di pasar modal belum surut, setidaknya hingga akhir tahun nanti. Lesunya fundraising, salah satunya tecermin dari total dana yang dikantongi dari penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 19 emiten pendatang baru yang listing hingga 4 Maret 2024 menghimpun Rp3,45 triliun. Realisasi itu jauh lebih rendah ketimbang total nilai IPO pada Januari—Februari 2023 senilai total Rp10,49 triliun yang diraih 20 emiten baru. Nilai IPO paling jumbo pada periode tersebut dihimpun oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) sebesar Rp9,06 triliun. Selain itu, aksi rights issue juga cenderung sepi pada awal tahun ini. BEI mencatat baru empat emiten yang melaksanakan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) hingga 1 Maret 2024. Akumulasi nilai rights issue yang digalang dari pasar saham pun hanya Rp3,08 triliun. Capaian itu turun dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan realisasi penawaran umum terbatas sebanyak 6 PUT senilai Rp3,51 triliun pada Januari—Februari 2022 dan 12 PUT senilai Rp12,32 triliun pada 2 bulan pertama 2023. Berbanding terbalik, emisi surat utang korporasi masih ramai dengan realisasi 15 emisi dari 13 perusahaan senilai total Rp15,3 triliun. Dus, sejumlah pihak pun masih optimisme dengan prospek penggalangan dana di pasar modal di sisa tahun ini. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan antusiasme penghimpunan dana di pasar modal masih terlihat. Buktinya, masih terdapat 84 pipeline penawaran umum dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp56,83 triliun. Animo korporasi untuk menghimpun dana dari pasar modal juga tecermin pada pipeline IPO.
Hingga 1 Maret 2024, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan terdapat 17 perusahaan yang masuk daftar tunggu IPO. Mayoritas calon emiten itu memiliki aset berskala menengah. Korporasi sektor industrial, consumer non-cylicals, dan teknologi paling mendominasi pipeline IPO tersebut. Nyoman menambahkan rights issue juga berpotensi kian semarak setelah pelaksanaan Pemilu 2024. Beberapa emiten yang merancang rights issue, ialah PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL), PT Bank BTPN Tbk. (BTPN), dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA). Dari aksi tersebut, BTPN mengincar dana Rp6,73 triliun. Sementara itu, korporasi yang tengah merancang emisi obligasi a.l. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) senilai Rp1,67 triliun, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) senilai Rp1,5 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membidik Rp2,5 triliun dari penerbitan green bond. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan prospek penghimpunan dana di pasar modal masih positif seiring dengan Pemilu 2024 yang digelar berjalan dengan aman dan kondusif. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto memperkirakan minat investor untuk berpartisipasi dalam aksi fundraising korporasi sektor energi dan consumer goods masih tinggi. Senada, prospek cerah IPO di BEI pada 2024 juga diteropong oleh Pricewaterhouse Coopers (PwC). PwC Indonesia Capital Markets and Accounting Advisory Services Leader Irwan Lau mengatakan pasar modal Indonesia dinilai tetap menjadi pilihan yang baik bagi perusahaan-perusahaan dengan model bisnis kuat yang mencari pendanaan eksternal. Terkait dengan prospek emisi obligasi korporasi, Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto memproyeksikan ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dan nilai surat utang jatuh tempo senilai Rp150,5 triliun pada 2024 akan mempengaruhi.
Tags :
#KorporasiPostingan Terkait
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023