Agar ”Live Shopping” Bisa Sukses
Praktik berjualan melalui siaran langsung yang dipandu pembawa
acara atau pemengaruh di platform daring atau live shopping telah menjadi tren
di pasar digital. Di balik ramainya kisah sukses live shopping, pelaku UMKM
masih banyak yang gagal. Edho Zell, pendiri Social Bread, perusahaan yang menghubungkan
kreator konten dan UMKM untuk mengelola online engagement terhadap pelanggan,
mengungkapkan pandangan itu saat ditemui di sela-sela peresmian Ruang Kreasi by
OCBC di Pasar Modern Intermoda Cisauk, BSD, Tangerang, Banten, Jumat (1/3). ”Kesalahan
utama adalah meremehkan live shopping.Pebisnis yang di dalamnya termasuk UMKM,
berpikir bahwa live shopping itu mudah karena tinggal pencet tombol. Padahal,
live shopping sebenarnya kompleks,” ujar Edho. Ibaratnya semua orang bisa dan
jago memasak, tetapi tidak semua masakan bisa dijual begitu saja, kemudian lalu
laku keras di pasaran.
Edho, yang juga berprofesi sebagai pemengaruh itu, lantas memberikan
setidaknya delapan saran agar live shopping yang dijalankan UMKM dapat optimal.
Pertama, UMKM harus membangun dulu pengikut (followers) di media sosial sejak
awal membuka bisnis dengan cara rajin membuat konten, agar jumlah followers di
atas 1.000 supaya live shopping bisa dimulai, bagi UMKM yang mau menjalankan
live shopping secara organik alias tanpa pasang iklan. Kedua, setelah mulai live
shopping, pemandu acara dari perwakilan UMKM harus memperhatikan hal-hal teknis
yang mendukung suasana berjualan, seperti teknik pencahayaan dan sinyal
internet yang kencang. Ketiga, produk yang dijual harus diutamakan muncul di depan
dibandingkan pemandu acara. Keempat, utamakan rutin melihat komentar penonton
yang muncul di layar. Kelima, pemandu acara harus banyak menyapa penonton,
bahkan sejak memulai siaran. Jika ada penonton baru bergabung, pemandu acara sebaiknya
menyapa mereka.
Keenam, menjelaskan produk, dimulai dari bahan baku ataupun
kandungan dalam produk. Ketujuh, menambahkan pemaparan manfaat produk. Terakhir,
pemandu acara harus tahan berbicara dalam waktu lama. Sebab, platform media
sosial, seperti Tiktok, akan memberi peringatan jika pemandu acara tengah jeda
bicara dan ini berpengaruh pada reputasi jenama yang bersangkutan. Oleh karena
itu, penting untuk memilih pemandu acara yang jago cuap-cuap marketing di depan
layar. ”Minimal dua jam durasi live shopping dilakukan setiap harinya untuk
membangun kehadiran jenama secara daring,” kata Edho, apalagi kini platform
lokapasar menyediakan pula fasilitas live shopping bagi UMKM. Bagi UMKM yang
sudah matang, fasilitas itu cocok karena dipastikan mendatangkan pembeli yang
benar-benar mau membeli. Sementara bagi UMKM baru, platform media sosial,
terutama Tiktok, dapat dipakai secara optimal untuk menggaet calon pelanggan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023