;

HARD LANDING ’PREMI UNIT-LINKED

Ekonomi Hairul Rizal 28 Feb 2024 Bisnis Indonesia (H)
HARD LANDING ’PREMI UNIT-LINKED

Pelaku industri asuransi jiwa agaknya perlu bermanuver lebih tajam dalam menghimpun premi. Pasalnya, kinerja premi salah satu produk andalan, unit-linked, jeblok dalam dua tahun terakhir karena terpukul kebijakan regulator yang memperketat aturan pemasaran sejak paruh pertama 2022. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pendapatan premi unit-linkedRp88,3 triliun pada 2023, anjlok makin dalam hingga 22,6% dibandingkan 2022 yang terkontraksi 13,3%. Penurunan itu membuat kontribusi unit-linked terhadap total premi asuransi jiwa makin susut menjadi 40,8%, tidak lagi mendominasi seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebaliknya, mulai tahun lalu, produk tradisional atau produk proteksi murni menjadi dominan. Kinerja loyo premi unit-linked berimbas pada pendapatan premi asuransi jiwa secara keseluruhan. Industri membukukan pendapatan premi hanya Rp177,66 triliun, turun 7,1% dari pendapatan premi 2022 yang sudah 5% di bawah realisasi tahun sebelumnya.Jika ditelusuri, penurunan kinerja unit-linked berlangsung sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan SEOJK No 5/SEOJK. 05/2022 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (Paydi). Aturan yang berlaku mulai Maret 2022 itu memperketat aturan pemasaran unit-linked. Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mengatakan ada kondisi 2022 yang melatarbelakangi kemerosotan tajam premi unit-linked pada 2023. “Kemudian, saat SEOJK Paydi meluncur, industri sempat mendapatkan sedikit masa transisi, tetapi harus sepenuhnya mematuhi aturan SEOJK Paydi. Jadi, sebetulnya tidak pas 12 bulan berbanding 12 bulan karena ada ketentuan peralihan,” kata Budi dalam konferensi pers kinerja industri asuransi jiwa 2023, Selasa (27/2). Mengenai nasib unit-linked pada 2024, Budi sempat mengatakan hal itu akan bergantung pada kebutuhan masyarakat. Menurutnya, generasi muda condong pada produk unit-linked. OJK sebelumnya berekspektasi premi asuransi jiwa akan bangkit tahun ini. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono melihat penurunan premi asuransi jiwa tahun lalu sudah sampai di titik terendahnya, termasuk pada premi unit-linked. CEO & President Director MSIG Life Wianto Chen menjelaskan peningkatan andil unit-linked tahun ini akan ditopang oleh produk baru setelah tahun lalu perusahaan vakum memasarkan produk itu. Menurutnya, produk unit-linked baru yang diluncurkan awal tahun ini telah mengikuti ketentuan SEOJK Paydi. Andil premi unit-linked MSIG Life tahun lalu merosot menjadi 25% dari semula 75%. Adapun, total premi bruto yang dicatat atau gross written premium (GWP) MSIG Life tahun lalu hampir Rp2 triliun. PT BNI Life Insurance juga melihat produk tradisional masih akan mendominasi pendapatan premi perusahaan tahun ini karena penjualannya lebih mudah. “Perusahaan masih melakukan penyesuaian terhadap pemasaran produk unit-linked,” kata Plt. Direktur Utama BNI Life Eben Eser Nainggolan. Sementara itu, Indonesia Financial Group Progress (IFG Progress) menilai produk unit-linked masih terdampak scarring effectdari penerapan SEOJK Paydi. Senior Research Associate IFG Progress Ibrahim Kholilul Rohman mengatakan dampak ini terus berlanjut hingga kuartal IV/2023, terutama pada premi tunggal yang didistribusikan melalui keagenan yang terkontraksi hingga 30% selama satu tahun terakhir.

Tags :
#Asuransi
Download Aplikasi Labirin :