PEMILU 2024, Kejutan Komeng dan Strategi Citra ala Nike
Komedian Komeng, yang punya nama asli Alfiansyah Bustami,
maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Komeng memasang foto dengan gestur ”nyeleneh”
di surat suara. Hasilnya, calon anggota DPD Dapil Jabar dengan no urut 10 ini
menggaet atensi publik sehingga menjadi trending di media sosial X. Berdasarkan
penghitungan resmi KPU, hingga Jumat (16/2) pukul 21.31, Alfiansyah alias
Komeng mengungguli kandidat lain dengan 1.196.335 suara. Menurut praktisi
pemasaran dan ilmu perilaku Ignatius Untung, rahasia keberhasilan Komeng
menyedot atensi publik hingga terkonversi menjadi jumlah suara adalah penerapan
tiga level pemasaran berbasis perilaku (behavioral marketing), yakni exposure
effect, halo effect, dan unpredictability, dalam strategi pencitraan dan
pemasaran politik.
Menurut praktisi pemasaran dan ilmu perilaku Ignatius Untung,
rahasia keberhasilan Komeng menyedot atensi public hingga terkonversi menjadi jumlah
suara adalah penerapan tiga level pemasaran berbasis perilaku (behavioral marketing),
yakni exposure effect, halo effect, dan unpredictability, dalam strategi
pencitraan dan pemasaran politik. Dengan penerapan yang tepat, strategi ini
mampu menggenjot penjualan dan mengatrol nilai saham merek perusahaan apparel
olahraga asal AS, Nike, di pasar modal. Halo effect atau efek halo adalah dampak
yang diberikan suatu jenama karena menghasilkan produk yang berkualitas baik
sehingga membuat konsumen puas. Pengalaman positif konsumen terhadap produk
Nike dipupuk sejak perusahaan pertama menjual sepatu di AS pada 1966. Dalam Pileg
DPD Dapil Jabar, Komeng menciptakan efek halo atau kecenderungan pemilih untuk
menilai sesuatu atau seseorang yang kita kagumi sebagai orang yang kredibel di
bidang lain.
Mere-exposure effect, yakni perilaku pemasaran memanfaatkan fenomena
psikologi saat manusia akan memiliki kecenderungan untuk menyuka sesuatu karena
familiar. Lebih dari lima dekade, keberadaan logo dan iklan Nike di tengah
masyarakat secara terus-menerus membuat konsumen memersepsikan Nike sebagai
merek yang familiar dan lebih tertarik untuk membeli produknya. Pada Pileg DPD
2024, keberadaan sosok Komeng di antara deretan calon anggota DPD Dapil Jabar
lain yang tidak seterkenal dirinya membuat pemilih dengan mudah menentukan
untuk mencoblos sosok yang paling mereka kenal. Unpredictability atau
ketidakterdugaan dalam sejumlah strategi pencitraan Nike, yang sebenarnya bisa berisiko
menjadi bumerang jika tidak diimplementasikan secara baik di momen yang tepat.
Nike merekrut Kaepernick pada 2018 setelah atlet ini
menganggur setahun seusai dipecat klubnya, San Francisco 49’ers, pada 2017. Saat
itu, kejatuhan karier Kaepernick dipercaya sebagai konspirasi oleh rakyat AS
karena sejak 2016 sosok ini selalu berlutut setiap lagu kebangsaan AS diputar
sebelum pertandingan National Football League (NFL). Hasilnya, penjualan Nike
secara global pada periode tersebut malah naikan signifikan. Ketidakterdugaan
juga dinilai sebagai faktor utama Komeng meraup angka fantastis Pileg DPD 2024.
Pemilih tak menduga ada sosok Komeng dalam kertas suara calon anggota DPD Dapil
Jabar karena Komeng tidak menggunakan alat peraga kampanye sebelum pemilu
berlangsung. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023