;

Benang Kusut Ekonomi Biaya Tinggi di Indonesia

Ekonomi Yoga 13 Feb 2024 Kompas
Benang Kusut Ekonomi
Biaya Tinggi di Indonesia

Berbagai langkah reformasi struktural dan pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintah dalam Sembilan tahunterakhir tidak mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi yang masih stagnan di kisaran 5 %. Ekonomi Indonesia masih saja berbiaya tinggi yang berakar dari praktik korupsi dan biaya logistik yang tinggi. Setidaknya sudah 11 tahun terakhir ini perekonomian Indonesia stagnan di kisaran 5 %. Rata-rata pertumbuhan ekonomi selama periode pertama pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (tahun 2014-2019) adalah 5,03 %. Sementara rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode kedua Jokowi-Ma’ruf Amin adalah 5,18 %. Data terakhir BPS, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 % secara tahunan (year on year) menurun dari pertumbuhan ekonomi tahun 2022 yang sebesar 5,31 %. Saat itu ekonomi mampu tumbuh tinggi karena terkerek kenaikan harga komoditas dunia (commodity boom).

Menurut ekonom senior Raden Pardede, Senin (12/2) dalam beberapa tahun terakhir, investasi yang semestinya menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang solid belum mampu mendongkrak perekonomian Indonesia hingga lepas dari jerat 5 %. Meskipun dari segi nilai realisasi investasi naik nyaris empat kali lipat dalam satu decade terakhir dari Rp 398,3 triliun (tahun 2013) menjadi Rp 1.418,9 triliun (tahun 2023) pertumbuhan ekonomi masih ”jalan di tempat” di kisaran 5 % setiap tahun. UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja atau omnibus law dengan upaya memangkas birokrasi dan peraturan semestinya bisa mengatasi berbagai kendala dalam berinvestasi dan menciptakan iklim berusaha yang lebih efisien, namun UU itu belum mampu mengatasi berbagai kendala berinvestasi itu.

Saat ini, investasi di Indonesia masih terhitung tidak efisien, seperti terlihat dari indikator incremental capital to output ratio (ICOR) Indonesia yang masih relatif tinggi. Per Maret 2023, menurut catatan Kemenko Bidang Perekonomian, ICOR Indonesia masih di angka 7,6. Itu menghasilkan ekonomi berbiaya tinggi yang jadi kendala berinvestasi. ICOR dapat menjadi salah satu parameter untuk mengukur tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin tinggi nilai ICOR-nya, semakin tidak efisien suatu negara untuk investasi. Padahal, investasi seharusnya bisa menjadi penggerak ekonomi yang lebih solid dibandingkan dengan konsumsi rumah tangga yang saat ini masih jadi penopang utama perekonomian Indonesia. Sebagai perbandingan, sejumlah negara maju saat ini memiliki ICOR di bawah 3 %. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :