;

Tabungan dan Kepercayaan Ludes Gara-gara Properti

Ekonomi Yoga 05 Feb 2024 Kompas
Tabungan dan Kepercayaan
Ludes Gara-gara Properti

Tertipu perusahaan properti tengah dialami warga di sejumlah negara Asia. Nasib investasi mereka tidak jelas karena raksasa properti, seperti Evergrande dan Van Thin Phat, gagal mewujudkan janjinya. Modusnya mirip seperti ulah sejumlah konglomerat Indonesia. Salah satu kegagalan itu tecermin dalam sidang di pengadilan Hong Kong pada 29 Januari 2024. Pengadilan memerintahkan penjualan seluruh aset Evergrande. Sebab, perusahaan properti China itu gagal membayar utang-utangnya yang lebih dari 300 miliar USD. Sebagai pembanding, APBN RI 2024 hanya 216 miliar USD. Di Vietnam, pengadilan akan menyidangkan para petinggi Van Thinh Phat. Operasional perusahaan properti itu sudah dihentikan dan seluruh asetnya disita. Pemimpin Van Thin Phat, Truong My Lan, diduga menilap 12,5 miliar USD dari dana investasi warga, yang mengguncang perekonomian Vietnam.

Korban Van Thinh Phat antara lain pensiunan perawat di Ho Chi Minh. Perempuan yang hanya mau disebut Nga itu bingung karena tabungan pensiunnya hilang. Hampir seluruh tabungannya sebanyak 120.000 dibelikan obligasi Van Thinh Phat yang diterbitkan Saigon Commercial Bank (SCB). Waktu memulai menabung, ia berharap investasi itu bisa membantu anak dan cucunya. Semua angan itu raib pada April 2022. Bersama 42.000 pemegang obligasi yang diterbitkan SCB, ia kehilangan investasi. kala SCB mengungkap korupsi Van Thinh Phat terhadap dana yang dikumpulkan dari obligasi tersebut. Lebih besar dari kasus Van Thinh Phat Group di Vietnam adalah kasus Evergrande di China. Pada 2018, raksasa properti China itu disebut perusahaan properti terbesar dan bernilai paling tinggi di skala global.

Pada 2021, tiba-tiba perusahaan itu berhenti beroperasi dan tak bisa membayar utang ke kreditor dan mengembalikan modal investor. Para pemesan yang membayar uang muka pun tidak kunjung mendapat rumah. Lembaga keuangan Jepang, Nomura Securities, menaksir 20 juta rumah belum dibangun di China biaya total 450 miliar USD. Padahal, konsumen sudah melunasi pembayarannya. Jika menghitung jumlah yang baru dibayar sebagian, jumlahnya makin banyak lagi. Sementara seluruh aset Evergrande, termasuk proyek yang terhenti pembangunannya, hanya 240 miliar USD. Di luar untuk menyelesaikan pembangunan, Evergrande juga menanggung utang 300 miliar USD ke para kontraktor dan kreditor. Meski utangnya banyak, selama ini Evergrande bisa terus berjalan karena gali lubang tutup lubang. Kasus Evergrande menggoyang perekonomian China. Sebab, 70 % rumah tangga di negara tersebut berinvestasi dalam bentuk properti. Jika propertinya mangkrak, rakyat kehilangan aset dan tabungan. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :