;

Pontang-panting demi Sekolah Anak

Pontang-panting
demi Sekolah Anak

Saat ditemui di kontrakannya di Tangsel, Jumat (2/2) M Yusuf (47), pengemudi ojek daring, menceritakan berbagai upaya kerasnya demi menyediakan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Ayah empat anak ini sempat putus asa, saat tahun lalu anak sulungnya, M Syahrir (17), meminta melanjutkan kuliah setamat sekolah kejuruan. ”Pendapatan dari narik ojol serba tidak pasti. Rata-rata seharian narik sampai malam dapatnya Rp 100.000. Paling separuh yang bisa dibawa pulang untuk kebutuhan rumah sehari-hari. Separuh lagi untuk bensin dan lainnya,” ujar Yusuf. Meski di rumah petak kontrakannya sang istri ikut bantu berjualan barang kelontong, pendapatan dari warung kecil keluarga Yusuf itu tidak seberapa, cukup untuk makan sehari-hari. Meski begitu, Yusuf mengaku tak kuasa dan trenyuh saat si sulung menyatakan ingin kuliah.

”Dia bilang, kalau cuma ijazah SMK aku bisa melamar kerja apa? Paling-paling jadi seperti Ayah, jadi driver ojol. Sementara aku mau bantu keluarga dengan cari pekerjaan lebih menjanjikan,” ujar Yusuf dengan mataberkaca-kaca. Selama ini, Yusuf memang kerap kesulitan membiayai sekolah ketiga anaknya. Yusuf kerap terlambat membayar uang sekolah, terutama uang sekolah si sulung saat masih duduk di sekolah kejuruan. Namun, dia juga tak gengsi untuk datang ke sekolah dan berupaya meminta keringanan, bahkan jika dia harus menandatangani surat jaminan bermeterai akan melunasi tunggakan SPP itu. Saat Syahrir dinyatakan lulus tes masuk Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Yusuf segera mengurus surat keterangan tak mampu.

Dengan bekal surat itu, dia mendapat keringanan, hanya membayar uang kuliah Rp 4,5 juta per semester. Namun bagi Yusuf nominal itu masih terbilang berat. Untuk membayar uang semester pertama kemarin, Yusuf dan istri, Nurhayati (40), terpaksa merelakan cincin kawin emas mereka, yang hanya beberapa gram untuk dijual. Namun dia tak menyesal dan berharap banyak kepada anak sulungnya. Di tengah segala keterbatasan, dia hanya berharap pemerintah bisa konsisten membantu warga dan siswa kurang mampu seperti dirinya. Kalaupun ada fasilitas bantuan dana pendidikan, Yusuf meminta alokasinya benar-benar diawasi dan bisa tepat sasaran sehingga warga seperti dirinya bisa merasa diperhatikan. ”Jangan sampai ada titipan atau penyelewengan. Saya sangat berharap anak-anak saya nanti bisa bernasib lebih baik dari saya lewat pendidikan,” ujarnya singkat.. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :