GAIRAH WARGA MANFAATKAN RUANG HIJAU DI MATARAM
Ruang terbuka hijau di Kota Mataram, NTB, kian menarik dan
menumbuhkan gairah positif warga untuk memanfaatkannya. Tidak hanya menjalankan
fungsi ekologis, ruang terbuka hijau yang terus dibenahi juga menjadi tempat
rekreasi dan edukasi, sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Senin (5/1) pukul
11.30, Roni Irawan (28) dan putranya, Respan (4,5) nyaman bermain di kawasan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Mataram, NTB, di
bawah deretan pepohonan rindang. Respan antusias mencoba alat bermain anak di
sana, mulai dari jungkat-jungkit, terowongan drum yang digandeng dengan dua
peluncur, hingga ayunan, diawasi Roni. Menurut Roni, keberadaan taman penting,
apalagi dilengkapi fasilitas bermain anak yang sulit ditemukan di tempat lain
selain sekolah, apalagi di Selagalas, fasilitas itu gratis.
Selain Selagalas, ada pula Taman Udayana di sisi utara kota,
Taman Sangkareang dan Taman Mayura di tengah, RTH Pagutan di selatan, serta
Taman Bawak Kokok Ampenan di sisi barat kota. Taman-taman kota itu tidak pernah
sepi pengunjung. Sepanjang hari selalu ada warga yang datang, baik pagi, siang,
sore, ataupun malam. Baik pada hari biasa maupun pada akhir pekan. Taman
Udayana merupakan RTH terbesar di Kota Mataram dengan luas 6,3 hektar. ”Saya
dulu sering ke Udayana, tetapi sejak Covid-19 sudah hampir tidak lagi. Sekarang
ke sini lagi, bersama anak-anak. Apalagi ada destinasi baru,” kata Elita
Nurmayana (36), warga Selaparang. Destinasi baru yang dimaksud Elita adalah
Destinasi Wisata Teras Udayana yang belum lama diresmikan Pemkot Mataram.
Tidak hanya Elita, warga lain juga penasaran untuk melihat Teras
Udayana. Setelah puas berfoto di area amfiteater, mereka bersantai di pinggir
kolam air mancur. Beberapa warga lain memilih duduk di bangku-bangku panjang di
bawah pohon sambal menyantap kuliner yang dijual pedagang kaki lima di sana.
Saat hari beranjak sore, semakin banyak orang datang. Keberadaan ruang terbuka hijau
turut menggerakkan ekonomi masyarakat. Di sana tersedia area bagi pedagang kaki
lima (PKL) untuk berjualan. Di Taman Udayana, misalnya, ada Diana (50) asal
Ampenan, yang sehari-hari berjualan siomay bersama suaminya. Saat ni omzetnya
Rp 500.000-Rp 600.000 per hari. ”Alhamdulillah. Semoga penataan Taman Udayana
terus dilakukan sehingga semakin ramai lagi,” kata Diana.
Pedagang di Taman Selagalas juga turut mendapat keuntungan
dari kunjungan warga ke taman tersebut. Hendi (36), warga Sayang-Sayang,
Cakranegara, mengatakan, setiap hari istrinya mendapat keuntungan Rp 70.000-Rp
80.000 dari jualan kelontong. Namun, khusus di akhir pekan seperti Sabtu-Minggu,
penghasilannya bisa di atas Rp 100.000. Menurut Nyoman, dampak itu yang juga
diharapkan pemerintah kota hadir dari penyediaan RTH, di samping manfaat lain
seperti sebagai ruang rekreasi, edukasi, dan fungsi ekologis untuk udara yang lebih
bersih dan hijau. Oleh karena itu, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana juga
berkomitmen RTH harus tetap dipertahankan sesuai dengan regulasi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023