PROPERTI Bertahan atau Ditinggalkan
Hingga akhir 2023, kekosongan ruang perkantoran di kawasan
pusat bisnis di Jakarta menembus 2 juta meter persegi. Tingkat kekosongan yang
fantastis di gedung-gedung pencakar langit menyisakan pekerjaan berat dalam menghadapi
siklus perlambatan properti pada 2024. Survei Colliers Indonesia merilis, luas
gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta pada tahun 2023
sekitar 7,38 juta meter persegi. Tingkat kekosongan sebesar 2 juta meter
persegi atau 27 % dari total luas perkantoran itu merupakan titik terendah bagi
kawasan bergengsi Ibu Kota, yang mencakup Thamrin, Sudirman, Rasuna Said, Mega
Kuningan, Gatot Subroto, dan Satrio. Pemicunya adalah banyaknya pasokan ruang perkantoran
baru dalam beberapa tahun terakhir. Suplai yang terus masuk membuat sektor perkantoran
sulit bergerak meski permintaan sewa ruang perkantoran yang tertahan selama
pandemi kini mulai bergeliat.
Sepanjang 2023, suplai baru ruang perkantoran di CBD Jakarta
tercatat 350.000 meter persegi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ruang
perkantoran di luar CBD, yakni berkisar 60.000 meter persegi. Pasokan gedung
baru di luar CBD Jakarta yang tidak signifikan telah mendorong okupansi
perkantoran di kawasan itu meningkat. Dari total luas gedung perkantoran di
luar CBD Jakarta sekitar 3,75 juta meter persegi, tingkat okupansi mencapai 75,01
%. Permasalahan okupansi juga turut dipicu tren pengurangan luas perkantoran.
Namun, Colliers Indonesia memprediksi permintaan ruang perkantoran tahun ini
akan meningkat sejalan dengan ekspansi dan relokasi kantor. Dengan kekosongan
ruang kantor yang masih besar, kenaikan permintaan diharapkan menjadi oase
untuk menggeliatkan ruang perkantoran.
Di samping perkantoran, rendahnya okupansi juga dialami
sejumlah pusat perbelanjaan kelas menengah bawah
serta mal dengan konsep kepemilikan (strata title). Meski pandemi telah berlalu
dan sektor ritel secara umum dinyatakan kembali normal, beberapa pusat
perbelanjaan belum mampu terkerek bangkit. Viral di media sosial terkait
deretan mal yang sepi di kawasan strategis Jakarta, seperti Blok M dan Senayan,
serta kekosongan sejumlah trade centre yang pernah berjaya sebagai destinasi belanja
menjadi ironi. Per tahun 2023, rata-rata okupansi mal kelas menengah bawah,
menurut survei Colliers Indonesia, hanya 60 %, jauh di bawah mal-mal kelas
menengah atas yang rata-rata mencapai 80-90 %. Sejumlah langkah adaptasi
diperlukan pengembang untuk relevan dengan pasar. Pilihannya hanya dua:
bertahan atau ditinggalkan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023