;

Ancang-ancang Lonjakan Tarif Kargo

Ancang-ancang Lonjakan Tarif Kargo
Terganggunya jalur perdagangan utama di Laut Merah berpotensi mendongkrak biaya logistik dari hulu ke hilir. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan biaya angkut kargo menuju kawasan Eropa serta destinasi ekspor di pesisir Laut Mediterania melonjak 12-15 persen dari tarif reguler. Lonjakan tarif jasa pelayaran itu membuat ongkos tanggungan eksportir semakin tinggi, yang pada akhirnya bisa berpengaruh terhadap harga barang di tingkat konsumen. "Semakin panjang gangguannya, semakin negatif dampaknya," katanya kepada Tempo, kemarin.

Pelayaran barang di Laut Merah dari Terusan Suez belakangan terganggu oleh serangan beruntun kelompok Houthi, pemberontak di Yaman, yang bertujuan menghentikan agresi Israel ke Jalur Gaza, Palestina. Rute tersebut lazim dipakai untuk mengekspor barang manufaktur asal Indonesia, dari tekstil dan pakaian jadi, furnitur, elektronik, komponen otomotif, serta produk turunan minyak sawit mentah (CPO). Milisi Houthi tercatat sudah menyerang 27 kapal komersial yang melintas di Laut Merah. Akibatnya, banyak kapal dagang dari Asia yang memakai rute alternatif ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, untuk mengekspor barang ke belahan bumi barat.

Tarif layanan kargo kini meningkat drastis karena tambahan kebutuhan bahan bakar. Berbeda dari biasanya, kata Benny, pelayaran kini hanya memasang harga untuk pengiriman selama sebulan. Karena kondisi operasional yang dinamis, penyedia kapal tidak berani mematok harga untuk layanan pengiriman pada bulan berikutnya. Alasan serupa pun membuat kuota pemesanan kontainer kosong dibatasi. "Akibatnya, eksportir juga belum bisa memberikan harga kepada pembeli (produsen barang) untuk pengiriman setelah sebulan," tuturnya. (Yetede)
Download Aplikasi Labirin :