;

PERTANIAN YANG DIGEMPUR TAMBANG DI MOROWALI

Ekonomi Yoga 07 Jan 2024 Kompas
PERTANIAN YANG DIGEMPUR TAMBANG
DI MOROWALI

Hayani (50), warga Desa Tangofa, Bungku Pesisir, Morowali, Sulteng, menilai tidak mudah lagi menemukan sawah di Morowali. Kalau tambang banyak. Dulu ada padi ladang. Sekarang lahannya sudah jadi tambang,” ujarnya, Jumat (29/12/2023). Hardin (60), warga lainnya, mengamini Hayani. ”Sekarang tidak ada yang mau urus kebun. Anak-anak muda lebih memilih bekerja di tambang atau pabrik nikel. Kami yang tua tidak kuat berkebun. Sudah tidak ada yang bikin kopra. Kelapa di kebun tinggal ditendang-tendang, sudah diratakan untuk tambang,” katanya. Sebagian kebunnya telantar, sebagian dibangun rumah kos untuk karyawan. Dari lima kamar kosnya dia mendapatkan Rp 6 juta per bulan. Rumahnya yang lain juga dikontrak perusahaan dengan sewa Rp 6 juta per tahun.

Menyusuri Bungku, ibu kota Morowali, Bahodopi, Bungku Pesisir, hingga ke dekat perbatasan dengan Sultra, memang sulit menemukan sawah. Yang ada hanyalah kawasan konsesi tambang dan industri nikel. Di antara lokasi konsesi adalah permukiman penduduk. Bukit dan hutan di sekitar permukiman yang berada di sepanjang jalan, tampak terbuka di banyak tempat akibat dikeruk. Sebagian pembukaan lahan juga untuk area permukiman sebagai dampak banyaknya pekerja dan pemilik usaha yang datang ke Morowali. Di laut, berjejer kapal yang mengangkut material. Hal yang sama juga tampak jika menyusuri Bungku ke arah Morowali Utara. Di kawasan ini, selain industri dan tambang, ada juga perkebunan sawit yang tampak dominan. Hanya, di Kecamatan Bumi Raya dan Wita Ponda, segelintir warga masih setia menanam padi, walau sudah dikepung tambang dan sawit.

Siswati (50), petani di Kecamatan Wita Ponda, masih menggarap 0,5 hektar sawah miliknya. Di luar itu, dia menyewa 1 hektar sawah orang lain untuk digarap. Lokasi sawah ini dikepung perkebunan sawit dan kawasan tambang. Tak jauh dari situ, ada pabrik yang sedang dibangun. ”Hasilnya cukup untuk makan. Lebihnya dijual untuk keperluan lain. Tapi itu kalau tidak ada banjir,” ujarnya. Sering terjadi banjir di wilayah itu. Bahkan, pernah banjir bandang. Kalau baru menanam dan datang banjir, pasti padinya rusak dan petani harus menanam ulang. Rusmi (55), pemilik sawah sekaligus penggilingan padi diKecamatan Bumi Raya mengaku beberapa tahun terakhir, peng- gilingan padinya tak lagi banyak beroperasi. Kalau dulu, sekali panen bisa sampai 2.500 karung gabah milik petani yang digiling di tempatnya, sekarang, paling banyak 1.500 karung. Biasanya malahan kurang dari itu. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :