;

Rezeki Mengalir dari Rumah Tua di Tepian Sungai Musi

Ekonomi Yoga 05 Jan 2024 Kompas (H)
Rezeki Mengalir
dari Rumah Tua
di Tepian Sungai Musi

Rumah ataupun bangunan tua di tepian Sungai Musi, Palembang, bukan sekadar benda usang. Kalau dikelola dengan serius, jejak perdagangan masa lampau itu bisa menjadi tempat wisata yang mengalirkan rezeki. Keberkahan tersebut dirasakan pasangan Budiman (56) dan Ani Srimayanti (50) serta tiga anak mereka yang menghuni Rumah Baba Ong Boen Tjit, rumah peninggalan saudagar rempah asal China, Ong Eng Twan, di tepian Sungai Musi di Kelurahan 3-4 Ulu, Palembang, Sumsel. Budiman adalah generasi keenam dari Ong Eng Twan. ”Rumah ini didirikan Ong Eng Twan lebih kurang 300 tahun lalu. Namun, kami memilih menamakan rumah ini dengan Ong Boen Tjit, salah satu dari tiga anak Ong Eng Twan yang sukses meneruskan usaha tersebut,” ujar Ani saat dijumpai, Rabu (20/12/2023). Rumah Baba Ong Boen Tjit tetap menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi keluarga Budiman. Rumah itu terus berdiri kokoh dan bentuknya tidak pernah berubah karena terbuat dari kayu unglen atau kayu besi berkualitas tinggi.

Rumah yang memadukan arsitektur Palembang dan China itu turut memberikan manfaat lebih untuk kebutuhan hidup keluarga Budiman. Enam tahun terakhir, mereka mendapat tambahan rezeki setelah rumah itu sukses menyedot turis sebagai salah satu destinasi wisata Palembang. ”Mungkin ini berkat harapan leluhur yang tertulis di rumah ini. Tulisan beraksara China di pintu depan artinya masa berjaya dan sepanjang tahun, sedangkan tulisan beraksara China di pintu tengah artinya paviliun panjang usia dan hutan rezeki,” kata Ani, perempuan asal Pacitan, Jatim, yang ikut bermukim di rumah tersebut sejak 1999. Ani mengisahkan pada November 2017, Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Sumsel mengajak berkolaborasi untuk membentuk Pasar Baba Boen Tjit sebagai ruang diskusi komunitas dan berjualan penganan khas Palembang yang memberdayakan masyarakat sekitar. Setelah sembilan bulan atau pada Agustus 2018,

Genpi Sumsel menganggap Budiman dan Ani mampu berdikari dalam mengelola potensi wisata. Dengan beragam inovasi, Budiman dan Ani mengembangkan usaha wisatanya dari sekadar menjual rumah sebagai tempat berfoto hingga menjadi wisma tamu (guest house). Seusai itu, Budiman dan Ani mencoba usaha kuliner. Mereka menerima pesanan makanan khas Palembang dan bisa makan di tempat dengan minimal pesanan 20 porsi per kelompok. Pelan tetapi pasti, konsep yang melibatkan para tetangga itu diterima wisatawan dalam dan luar Sumsel. Kini, dalam sebulan, mereka bisa menerima 12 kelompok. Harga kuliner itu beragam, seperti ragit Rp 15.000 per porsi, pindang Rp 35.000-Rp 80.000, serta nasi hainan dan fuyunghai Rp 35.000-Rp 40.000. Ada pula paket ngidang atau tradisi makan bersama khas Palembang dengan menu nasi ayam kecap seharga Rp 250.000 untuk empat orang. Usaha itu menambah pemasukan yang telah stabil dari kunjungan wisatawan dengan rata-rata 25 orang per hari. Adapun tarif karcis kunjungan Rp 10.000 per orang. ”Sejak ada tambahan penghasilan dari pariwisata, gaji suami sebagai wiraswasta bisa disisihkan untuk ditabung,” ujar Ani. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :