Rezeki Mengalir dari Rumah Tua di Tepian Sungai Musi
Rumah ataupun bangunan tua di tepian Sungai Musi, Palembang,
bukan sekadar benda usang. Kalau dikelola dengan serius, jejak perdagangan masa
lampau itu bisa menjadi tempat wisata yang mengalirkan rezeki. Keberkahan
tersebut dirasakan pasangan Budiman (56) dan Ani Srimayanti (50) serta tiga
anak mereka yang menghuni Rumah Baba Ong Boen Tjit, rumah peninggalan saudagar
rempah asal China, Ong Eng Twan, di tepian Sungai Musi di Kelurahan 3-4 Ulu,
Palembang, Sumsel. Budiman adalah generasi keenam dari Ong Eng Twan. ”Rumah ini
didirikan Ong Eng Twan lebih kurang 300 tahun lalu. Namun, kami memilih
menamakan rumah ini dengan Ong Boen Tjit, salah satu dari tiga anak Ong Eng Twan
yang sukses meneruskan usaha tersebut,” ujar Ani saat dijumpai, Rabu (20/12/2023).
Rumah Baba Ong Boen Tjit tetap menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi keluarga
Budiman. Rumah itu terus berdiri kokoh dan bentuknya tidak pernah berubah
karena terbuat dari kayu unglen atau kayu besi berkualitas tinggi.
Rumah yang memadukan arsitektur Palembang dan China itu turut
memberikan manfaat lebih untuk kebutuhan hidup keluarga Budiman. Enam tahun
terakhir, mereka mendapat tambahan rezeki setelah rumah itu sukses menyedot
turis sebagai salah satu destinasi wisata Palembang. ”Mungkin ini berkat
harapan leluhur yang tertulis di rumah ini. Tulisan beraksara China di pintu
depan artinya masa berjaya dan sepanjang tahun, sedangkan tulisan beraksara
China di pintu tengah artinya paviliun panjang usia dan hutan rezeki,” kata Ani,
perempuan asal Pacitan, Jatim, yang ikut bermukim di rumah tersebut sejak 1999.
Ani mengisahkan pada November 2017, Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Sumsel
mengajak berkolaborasi untuk membentuk Pasar Baba Boen Tjit sebagai ruang diskusi
komunitas dan berjualan penganan khas Palembang yang memberdayakan masyarakat
sekitar. Setelah sembilan bulan atau pada Agustus 2018,
Genpi Sumsel menganggap Budiman dan Ani mampu berdikari dalam
mengelola potensi wisata. Dengan beragam inovasi, Budiman dan Ani mengembangkan
usaha wisatanya dari sekadar menjual rumah sebagai tempat berfoto hingga menjadi
wisma tamu (guest house). Seusai itu, Budiman dan Ani mencoba usaha kuliner. Mereka
menerima pesanan makanan khas Palembang dan bisa makan di tempat dengan minimal
pesanan 20 porsi per kelompok. Pelan tetapi pasti, konsep yang melibatkan para tetangga
itu diterima wisatawan dalam dan luar Sumsel. Kini, dalam sebulan, mereka bisa
menerima 12 kelompok. Harga kuliner itu beragam, seperti ragit Rp 15.000 per porsi,
pindang Rp 35.000-Rp 80.000, serta nasi hainan dan fuyunghai Rp 35.000-Rp
40.000. Ada pula paket ngidang atau tradisi makan bersama khas Palembang dengan
menu nasi ayam kecap seharga Rp 250.000 untuk empat orang. Usaha itu menambah
pemasukan yang telah stabil dari kunjungan wisatawan dengan rata-rata 25 orang
per hari. Adapun tarif karcis kunjungan Rp 10.000 per orang. ”Sejak ada
tambahan penghasilan dari pariwisata, gaji suami sebagai wiraswasta bisa
disisihkan untuk ditabung,” ujar Ani. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023