;

MENOPANG PILAR DAYA BELI

Ekonomi Hairul Rizal 03 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)
MENOPANG PILAR DAYA BELI

Setelah sempat bergerak liar, inflasi akhirnya berhasil dikendalikan oleh pemangku kebijakan dan berakhir pada posisi 2,61% (year-on-year/YoY) pada bulan lalu.Angka tersebut berada di kisaran target Bank Indonesia (BI) yang sebesar 3% plus minus 1%, sehingga tak berlebihan apabila dalam konteks ini inflasi telah ternormalisasi.Apalagi, S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2023 berada di level 52,2, meningkat 0,5 poin dibandingkan dengan November 2023 yang berada pada level 51,7 sekaligus menandai ekspansi selama 28 bulan berturut-turut.Tetap eksisnya manufaktur pada zona ekspansi dan inflasi yang terkendali menggambarkan terjadi keseimbangan antara sisi penawaran dan permintaan.Hal ini tak lepas dari sinergi antara otoritas moneter dan fiskal dalam melakukan manuver baik melalui penyesuaian suku bunga acuan maupun pemberian stimulus fiskal. Artinya, ada faktor pelemahan daya beli dalam normalisasi inflasi tersebut. Dengan demikian, otoritas fiskal dan moneter pun wajib menyiapkan manuver dalam rangka menjaga stabilitas inflasi. World Bank dalam Commodity Markets Outlook 2023, bahkan menuliskan tiga skenario dari dampak perang di Timur Tengah terhadap harga komoditas energi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun kembali disiagakan dalam rangka merespons seluruh dinamika yang bisa membahayakan stabilitas.

Presiden Joko Widodo, saat mengunjungi Gudang Bulog Gumilir, Kabupaten Cilacap, kemarin, Selasa (2/1), menegaskan fiskal negara tetap menjadi bantalan yang akan melindungi daya beli masyarakat sekaligus inflasi. Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, mengatakan risiko geopolitik dan geoekonomi masih membayangi dan diprediksi berlangsung cukup lama. Dalam konteks penanganan inflasi, otoritas fiskal bakal memperkuat koordinasi dengan BI dan pemerintah daerah (pemda) untuk mencegah adanya kelangkaan komoditas penggerak inflasi.Sejatinya, melandainya gerak inflasi menjadi kabar gembira setelah sejak 2022 pemerintah berjibaku mengamankan indeks harga konsumen (IHK). Kalangan pelaku usaha pun menaruh asa yang besar bagi pemerintah, dari sisi fiskal perlu menambah stimulus baik insentif maupun bantuan sosial, sementara dari sisi moneter perlu upaya ekstra untuk menjaga rupiah dan memulai pelonggaran suku bunga acuan.Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Khamdani, mengatakan ada beberapa faktor yang dapat memicu kenaikan inflasi pada tahun ini. Sementara itu, Ekonom Bank Danamon Irman Faiz, memandang pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga energi karena adanya dinamika di luar perang.Faktor yang dimaksud adalah gangguan di Laut Merah serta ketidakpastian yang bersumber dari arah kebijakan negara-negara eksportir minyak atau OPEC+.

Tags :
#Inflasi
Download Aplikasi Labirin :