PENUNJANG PARIWISATA : ALARM MERAH DARI BALI SELATAN
Lumpuhnya tol Bali Mandara pada periode Natal dan Tahun Baru kali ini menjadi penanda revitalisasi moda transportasi di selatan Bali perlu diakselerasi. Langkah ini perlu diupayakan agar pesona Pulau Dewata tak memudar akibat punahnya kenyamanan bagi wisatawan.
Pada Jumat (29/12), jalan raya dari Bandara Internasional Ngurah Rai hingga tol Bali Mandara dan jalan Bandara ke arah Jimbaran Nusa Dua sempat mengalami lumpuh total. Bahkan di tol Bali Mandara para wisatawan sampai turun dari mobil lantaran selama berjamjam kendaraan tidak bergerak. Banyak wisatawan jalan kaki membawa barang mereka.Selain itu, banyak wisatawan yang sudah landingtidak bisa bergerak ke hotel mereka karena macetnya lalu lintas. General Manager Angkasa Pura I Bandara I Gusti Ngurah Rai, Handy Heryudhitiawan mengungkapkan bahwa sejak Jumat (29/12) pukul 13.00 WITA mulai nampak kepadatan kendaraan di jalan akses dari dan menuju bandara.Untuk itu sebagai salah satu upaya penanganan, Angkasa Pura I (AP1) bersama Polres Bandara dan TNI AU berupaya menyesuaikan alur kendaraan sejak nampak potensi kepadatan.
Selain itu, koordinasi dengan pihak airlines juga sudah dilakukan guna menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan pertimbangan situasi kepadatan di wilayah Bali. Memang pariwisata Bali mulai pulih. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sudah menembus angka 5,3 juta kunjungan, melampaui target 4,5 juta yang ditetapkan pemerintah.Akan tetapi, meningkatnya pariwisata Bali dibayangi dengan sejumlah masalah serius yang harus yang berakibat menurunnya kualitas pariwisata Bali.
Pengamat Pariwisata I Nengah Dasi Astawa menjelaskan bahwa pariwisata Bali justru memasuki masa anomali lantaran terjadi penurunan kualitas layanan karena dua masalah utama yakni kemacetan dan sampah yang belum tertangani dengan baik.
Menurutnya, kondisi Bali saat ini sangat berbeda dari 10 tahun lalu lantaran ada masalah–masalah lama yang tidak tertangani dengan baik seperti sampah dan kemacetan. “Bali membutuhkan upaya penanganan yang komprehensif demi menjaga keberlangsungan pariwisata.” Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Bali Putu Winastra menambahkan bahwa jika Bali hanya sebagai tempat transit atau menjadi hub wisman, maka Pulau Dewata tidak akan diuntungkan.
Kepala Dinas Pariwisata Bali Tjok Bagus Pemayun menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya mengatasi masalah yang berdampak negatif terhadap pariwisata Bali seperti masalah sampah. Pihaknya telah merancang dana pungutan pariwisata yang mulai diberlakukan pada Februari 2024 guna penanganan sampah di Bali.
Tags :
#PariwisataPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023