;

MENJAGA NAPAS DAN MEMANCING GELIAT PROPERTI

Ekonomi Yoga 03 Jan 2024 Kompas
MENJAGA NAPAS
DAN MEMANCING GELIAT PROPERTI

Secara historis, pertumbuhan sektor properti cenderung tertahan di masa Pemilu, karena sejumlah investor bersikap menunggu dan melihat (wait and see) hasil pemilu. Selain itu, faktor kenaikan tingkat suku bunga, melemahnya konsumsi, dan ketidak pastian ekonomi global turut memengaruhi sentimen pasar. Laporan Colliers Market Insights Research mengenai dampak Pemilu 2024 terhadap sektor properti, yang dirilis awal Desember 2023, memproyeksikan hasil pemilu memengaruhi sentimen pasar properti secara keseluruhan. Kekhawatiran atas ketidakpastian menjelang pemilihan hingga rencana kebijakan dan komitmen ke depan dari masing-masing calon presiden berdampak terhadap pasar properti. Proyeksi perlambatan properti pada tahun 2024 berlangsung saat sektor properti belum sepenuhnya pulih pascapandemi Covid-19. Beberapa subsektor properti masih tergerus dalam, seperti perkantoran dan apartemen. Sebaliknya, sektor perumahan tapak, ritel, pusat perbelanjaan, pergudangan, dan kawasan industri telah menunjukkan tren pemulihan.

Direktur PT Ciputra Development Tbk (CTRA) Harun Hajadi mengemukakan, perusahaan itu menargetkan proyek-proyek rumah tapak tetap tumbuh tahun depan jika tidak ada kenaikan bunga kredit. Saat ini, terdapat 80 proyek CTRA di seluruh Indonesia. Ia memprediksi, suku bunga dan kenaikan inflasi masih akan terkendali, kecuali ada pelemahan signi fikan atas nilai tukar rupiah. Namun, ekspor Indonesia masih cukup stabil. ”Tahun 2024 (pertumbuhan) akan kurang lebih sama dengan tahun 2023, kecuali pemilu tidak aman. Untuk properti, security atau merasa aman itu penting,” ujar Harun, beberapa waktu lalu.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Sanny Iskandar mengemukakan, periode pemilu membawa pengaruh bagi pelaku industri dalam negeri untuk lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi bisnis. Namun, peluang tetap terbuka bagi kawasan industri karena investor asing terus melakukan ekspansi industri ke Indonesia, seperti investor asal China. Ini, antara lain, dipicu kebijakan pemerintah untuk hilirisasi industri tambang di wilayah luar Jawa. Pengembangan infrastruktur jalan tol yang mendorong koneksi antarkota di Pulau Jawa juga dinilai memudahkan penyebaran kegiatan industri manufaktur dan kawasan industri. Saat ini pembangunan industri baru mulai menyasar Karawang, Purwakarta, Subang, Majalengka, Sumedang, Cirebon (Jabar), Batang, Kendal (Jateng), hingga Jatim. Daerah dengan tingkat upah relatif lebih rendah di bidik, industri yang padat karya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :