;

Pasar Kerja Mulai Syaratkan Kecerdasan Buatan

Ekonomi Yoga 02 Jan 2024 Kompas
Pasar Kerja Mulai Syaratkan Kecerdasan Buatan

Sepanjang 2021-2023, berdasarkan temuan aplikasi media sosial untuk jaringan profesional LinkedIn, lowongan pekerjaan di Asia Tenggara yang menyebutkan syarat keterampilan teknologi kecerdasan buatan ataupun spesifik kecerdasan buatan generatif meningkat 2,4 kali lipat. Fenomena ini menandakan teknologi kecerdasan buatan sudah berada di garis depan transformasi pasar tenaga kerja. Country Lead LinkedIn for Indonesia Rohit Kalsy, Senin (1/1/2024), di Jakarta, mengatakan, sudah banyak pekerja di Indonesia meyakini akan terjadi perubahan signifikan pada pekerjaan mereka seiring dengan rilis teknologi kecerdasan buatan. Di antara profesional Indonesia, ada yang optimistis mengenai manfaat menggunakan kecerdasan buatan untuk bekerja dan ada pula pekerja yang merasa terbebani dengan tren teknologi tersebut.

”Untuk tahun 2024 dan seterusnya, kami semakin jelas melihat bahwa dunia kerja semakin beralih menjadi lebih memprioritaskan keterampilan, termasuk keterampilan dibidang teknologi kecerdasan buatan. Kami pun melihat momentum ini sudah mulai terbangun. Para pengusaha sedang mengubah pola pikir mereka dengan menempatkan keterampilan sebagai inti perekrutan dan pengembangan talenta di dalam perusahaan,” ujar Rohit. Ia mengatakan, sesuai data LinkedIn, di pasar Asia Tenggara yang di dalamnya ada Indonesia, filter keterampilan yang menjadi bagian dari fitur pencarian perekrutan di aplikasi LinkedIn telah tumbuh 25 %. Saat ini 50 % perekrut cenderung mencari kandidat berdasarkan keterampilan daripada lamanya pengalaman kerja. Pengguna LinkedIn secara global menambahkan lebih dari 595 juta keterampilan ke profil mereka per September 2023 atau meningkat 69 % dari tahun sebelumnya.

Keterampilan teknis (hard skill) di bidang teknologi, terutama kecerdasan buatan yang sifatnya disruptif, sangat dicari oleh perusahaan. Data LinkedIn menunjukkan, kesenjangan keterampilan terbesar di Indonesia masih menyangkut keterampilan ilmu data, pengembangan laman, dan desain grafis. Menurut Rohit, keterampilan nonteknis (soft skill) tetap tidak bisa diabaikan meskipun lingkungan bisnis semakin kompleks dan otomatisasi tugas oleh kecerdasan buatan semakin marak. Mentransfer soft skill pun lebih mudah dilakukan baik antar bidang pekerjaan maupun lintas industri. Sejumlah pengguna LinkedIn di Indonesia diketahui menggemari belajar soft skill yang berupa berpikir strategis, berbicara dengan percaya diri dan efektif, serta kemampuan menganalisis data. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :