Kian Bergairah di Tahun Politik
Badai pandemi Covid-19 sempat melemahkan denyut bisnis properti sepanjang 2020-2021. Jejak-jejak pelemahan pun masih tersisa pada 2022. Pelemahan terjadi sebagai buntut perhatian publik terhadap masalah kesehatan ketimbang urusan lain. Terutama pada 2020. Linglungnya seluruh pemerintah dunia menghadapi pandemi Covid-19 praktis berimbas ke seluruh sendi kehidupan di permukaan bumi. Terhentinya aktivitas ekonomi dan impor, terhentinya perjalanan bisnis maupun wisata mewarnai sepanjang 2020. Dunia usaha yang mati suri itu berujung kepada penurunan daya beli kebanyakan masyarakat di Indonesia. Otomatis niat orang membeli rumah maupun produk properti lainnya ikut berhenti juga. Sektor properti, termasuk rumah tapak komersial dan rumah subsidi tak bisa lepas dari suramnya perekonomian akibat badai pandemi Covid-19. Saat pandemi Covid-19 mereda, roda usaha perlahan bergulir. Denyut pertumbuhan sektor properti tahun ini dapat dirasakan dari pendapatan 80 emiten properti yang melantai di Bursa Efek Indonesia yang bertumbuh 4,38% per akhir September 2023. Mengutip laporan keuangan masing-masing emiten itu, per akhir September 2022 pendapatan tercatat masih Rp 66,56 triliun, namun kini menjadi Rp69,48 triliun (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023