;

TRANSAKSI RITEL : BISNIS BARANG MEWAH KIAN BERGAIRAH

Ekonomi Hairul Rizal 02 Dec 2023 Bisnis Indonesia
TRANSAKSI RITEL : BISNIS BARANG MEWAH KIAN BERGAIRAH

Barang mewah dengan harga tinggi seringkali dipandang sebagai simbol sekaligus standar kemapanan, keberhasilan, dan kesuksesan.Takayal,memiliki barang mewah dinilai merupakan salah satu cara untuk menunjukkan pencapaian dan status mereka kesuksesan. Tak ayal, memiliki barang mewah dinilai merupakan salah satu cara untuk menunjukkan pencapaian dan status mereka kepada orang lain.kepada orang lain. Hal inilah yang membuat pasar barang mewah masih terus potensial hingga saat ini. Data dari Bain & Company bersama Altagamma, asosiasi industri produsen barang mewah Italia, menyebutkan bahwa pasar barang mewah global diproyeksikan mencapai 1,5 triliun euro pada 2023. Angka itu tercatat tumbuh sebesar 8%-10% dibandingkan dengan 2022.Pertumbuhan itu juga terjadi di lingkup Asia. Luxehouze, platform barang mewah yang berbasis di Singapura, menyebutkan bahwa sejak berdiri pada 2021, pasar barang mewah terus tumbuh positif. Dari keseluruhan penjualan, harga jam tangan mewah mencapai rekor tertinggi pada kuartal pertama 2022. Founder Luxehouze Shawn Ting menuturkan, tren penjualan bisnis barang mewah di Luxehouze berlangsung dinamis. Berdasarkan klasifi kasi, segmen pembeli barang mewah seperti jam tangan dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Pada konsumen pemula, berada di kisaran harga sekitar Rp230 juta. Sedangkan segmen pembeli kelas menengah berada di kisaran Rp800 juta, disusul segmen pembeli kelas atas bernilai di atas Rp900 juta. Shawn menjelaskan bahwa kalangan konsumen barang mewah umumnya terbagi dua yakni sophisticated luxury consumer dan general luxury consumer. Sophisticated luxury consumer adalah kalangan konsumen dengan pengetahuan yang besar mengenai merek dan pasar barang mewah, sehingga sangat mementingkan elemen eksklusivitas, keahlian dari produk tersebut, serta pengalaman berbelanja yang menyeluruh.Sementara general luxury consumer adalah kalangan pembeli dan peminat barang mewah yang datang dari berbagai latar belakang sosial. Namun, di samping itu, konsumen barang mewah juga kini banyak yang berasal dari kalangan anak muda atau milenial. Dalam menjalankan bisnis barang mewah, Shawn menyebutkan ada beberapa tantangan yang dihadapi. Pertama, perubahan selera konsumen. Kedua, pengaruh teknologi. Kemajuan teknologi, terutama e-commerce, dapat menjadi tantangan bagi bisnis barang mewah yang tradisional. Ketiga, yakni perekonomian global. Sementara itu CEO Irressavenue Marisa Tumbuan mengatakan pasar barang mewah tak lepas dari bisnis preloved, yakni sistem jual beli item luxury brand yang masih layak pakai dan dapat dibuktikan keasliannya. Selain itu juga memiliki harga yang bersaing dan diburu para peconta fesyen. Sejumlah barang-barang preloved yang layak diperljual belikan misalnya seperti tas, baju, sampai sepatu dari jenama fesyen terkemuka di dunia. Pakar Marketing Inventure Consulting Yuswohady menilai tren bisnis barang mewah selama ini cenderung bergerak stabil. Hal itu lantaran bisnis satu ini ditopang oleh kemampuan orang-orang kaya yang seleranya cenderung tidak tergantung dengan pergerakan tren ataupun krisis. Khusus di Indonesia, dia berpendapat perkembangan bisnis barang mewah juga tak terlepas dari ketimpangan sosial yang ada. Lantaran sebagian besar masyarakat berasal dari kalangan menengah ke bawah, banyak orang kaya yang akhirnya berlomba-lomba untuk menaikkan statusnya.

Tags :
#Ritel
Download Aplikasi Labirin :