Indonesia Butuh Dana Pihak Lain untuk Atasi Krisis Iklim
Upaya mengatasi krisis iklim memerlukan kerja sama yang
kolaboratif dan inklusif berupa aksi-aksi nyata dari semua pihak. Indonesia pun
berkomitmen mengatasi krisis iklim dengan dukungan pendanaan dari pihak lain. Posisi
Indonesia untuk terus mendorong pendanaan iklim, khususnya terkaittransisi
energi, disampaikan langsung Presiden Jokowi dalam pembukaan World Climate
Action Summit (WCAS) di Dubai, Uni Emirat Arab, Jumat (1/12) WCAS merupakan salah
satu agenda dalam Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim Ke-28 (COP28)
di Dubai.
”Target Kesepakatan Paris dan net zero emission (nol emisi karbon)
hanya bisa dicapai jika kita bisa menuntaskan masalah pendanaan transisi energi
ini. Dari situlah masalah dunia bisa diselesaikan,” ujarnya. Presiden
mengatakan, semua upaya mengatasi perubahan iklim membutuhkan pembiayaan besar.
Negara-negara sedang berkembang tidak mungkin mampu melakukannya sendiri.
Indonesia membutuhkan investasi lebih dari 1 triliun USD untuk net zero
emission 2060. ”Indonesia mengundang kolaborasi dari mitra bilateral, investasi
swasta, filantropi, dan dukungan negara-negara sahabat. Kami memiliki platform
pembiayaan inovatif yang kredibel, bursa karbon, mekanisme transisi hijau,
sukuk dan obligasi hijau, pengelolaan dana lingkungan hidup dari result based
payment (pembayaran berdasarkan hasil),” ucap Presiden. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023