PAGAR MONETER PENGAMAN EKONOMI
Otoritas moneter menyiapkan desain kebijakan taktis untuk memagari ekonomi nasional dari sengatan eksternal yang diprediksi masih berlanjut pada tahun depan. Bank Indonesia (BI) pun telah memetakan aneka risiko yang masih mengintai ekonomi domestik pada 2024. Mulai dari perlambatan ekonomi global yang diprediksi hanya naik 2,8%, inflasi yang belum termoderasi, rezim suku bunga tinggi di negara maju, perebutan uang tunai, hingga pelemahan nilai tukar rupiah. Maklum, masing-masing penekan itu memiliki daya rambat yang cukup luas ke ekonomi nasional. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan fenomena cash is the king misalnya, yang berisiko menggoyahkan stabilitas rupiah. Bank sentral dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2023 yang digelar kemarin, Rabu (29/11) malam, pun telah merumuskan sederet kebijakan untuk menjaga eksistensi ekonomi di jalur ekspansi. Kebijakan makroprudensial pun bakal tetap longgar dengan menaikkan insentif likuiditas senilai Rp159 triliun dan akan ditambah Rp20 triliun dalam rangka meningkatkan kredit di sektor prioritas. Sejalan dengan itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2024 berkisar 4,7%—5,5% dan pada 2025 pada kisaran 4,8%—5,6%. Presiden Joko Widodo, dalam pertemuan itu mengatakan bahwa seluruh pemangku kebijakan wajib cekatan merespons dinamika eksternal yang masih penuh ketidakpastian. Apalagi, menurut Kepala Negara ketegangan politik baik di Eropa Timur maupun Timur Tengah tak akan berakhir dalam waktu dekat sehingga memicu gangguan pada rantai pasok global, lonjakan harga pangan, serta naiknya harga energi. Pada kesempatan tersebut, Kepala Negara secara khusus menekankan dua upaya penting yang wajib dilakukan untuk mengimbangi upaya otoritas moneter dalam memacu ekonomi. Pertama, belanja pemerintah baik di level pusat maupun daerah yang perlu dipacu. Kedua, desakan kepada perbankan untuk tidak terlalu berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Gubernur BI Perry Warjiyo, menambahkan konsumsi dan investasi menjadi dua mesin yang bakal memacu pertumbuhan ekonomi sesuai target pada tahun depan. Merespons komitmen bank sentral untuk tetap longgar mengawal stabilitas, kalangan pelaku usaha pun lebih optimistis dalam meneropong ekonomi pada tahun depan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan sepanjang transisi kepemimpinan berjalan mulus, fundamental ekonomi tetap optimal, serta tidak adanya guncangan eksternal, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% bukan tidak mungkin. Sementara itu, kalangan ekonom menilai faktor global mulai dari inflasi hingga situasi perang akan memengaruhi pasar keuangan pada tahun depan. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual, mengungkapkan bahwa tensi geopolitik yang makin memanas akan berpengaruh terhadap harga minyak dunia dan pada akhirnya menentukan arah suku bunga acuan di AS. Untuk itu, menurutnya BI dan pemerintah perlu mengoptimalkan sederet instrumen penjaga rupiah, seperti Devisa Hasil Ekspor (DHE), Sekuritas Rupiah BI, Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), serta Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, juga menilai bahwa instrumen yang dikeluarkan BI telah cukup mendukung rupiah.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023