DESA BUDAYA, Berburu Paus Bukan Cuma Urusan Sejengkal Perut
Bagi orang Lamalera, tradisi berburu paus, lumba-lumba, dan
pari manta bukan urusan sejengkal perut semata. Tradisi ratusan tahun di
selatan Pulau Lembata, NTT, itu menjadi landasan hidup yang mewujud dalam
beragam ekspresi budaya. Alunan syair lie yang dinyanyikan Kristoforus Plea
Hariona (66) di Desa Lamalera A, Kecamatan Wulandoni, Lembata, Senin (20/11)
malam memecah keheningan, sang lamafa atau juru tikam ikan paus tersebut
melantunkan syair berbahasa Lamalera dalam festival budaya ”Tani Tenane Fule
Penete”. Lie merupakan nyanyian selama proses melaut yang dipercaya bisa
mendatangkan pertolongan. Syairnya beragam, beberapa di antaranya ditujukan
untuk meminta angin saat berlayar dan kemudahan mendapatkan ikan.
”Sayangnya, banyak generasi muda mulai lupa. Padahal, ini budaya
dari nenek moyang yang harus terus dilestarikan,” ujarnya. Orang Lamalera
memburu paus, lumba-lumba, dan pari manta tidak sekadar untuk kebutuhan
keluarga. Setelah ikan-ikan besar itu ditangkap, dagingnya dibagikan kepada warga
setempat, termasuk fakir miskin, janda, dan orang sakit. Dalam festival budaya
itu, warga Lamamanu membawakan tutu koda meminta hujan untuk memulai musim tanam.
Sebab, kemarau masih melanda meskipun sudah di pengujung tahun. Selain tradisi
lisan dan tarian, tradisi berburu paus di Lamalera juga mewujud dalam obyek
kebudayaan lainnya, yaitu pengetahuan tradisional menenun yang disebut tani tenane.
Gambar peledang, paus, dan pari manta menjadi motif umum tenun Lamalera.
Setiap Sabtu pagi, ibu-ibu dari Lamalera naik bus menuju
Pasar Barter Wulandoni yang berjarak 9 km. Di sana mereka bertemu orang-orang
dari gunung untuk menukarkan hasil laut dengan komoditas pertanian, seperti
jagung, singkong, keladi, dan sayur-mayur. Tiga tahun terakhir, Alexander
menjadi daya desa di Lamalera A. Ia bertugas menggerakkan warga mengoptimalkan
potensi desa untuk mendukung program pemajuan kebudayaan desa dari Dirjen
Kebudayaan Kemendikbudristek. “Tradisi berburu paus ibarat akar bagi budaya
Lamalera yang mewariskan nilai-nilai luhur, seperti gotong royong, kerja keras,
dan peduli terhadap sesama. ”Jadi, ini bukan cuma urusan perut. Kalau tradisi
berburu paus yang sudah berjalan ratusan tahun dilarang, budaya-budaya Lamalera
pun akan hilang,” katanya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023