;

Menanti Tunas Harapan Pupuk Fakfak

Ekonomi Yoga 27 Nov 2023 Kompas
Menanti Tunas Harapan Pupuk Fakfak

Masih hangat perbincangan masyarakat Distrik Arguni, Papua Barat, lokasi kawasan industri pupuk yang menjadi proyek investasi dari PT Pupuk Kalimantan Timur, tentang kedatangan Presiden Jokowi untuk meresmikan dimulainya pembangunan kawasan industri Fakfak, Kamis (23/11). Proyek Strategis Nasional yang ditargetkan beroperasi pada 2028 itu diharapkan bisa memberikan dampak besar bagi masyarakat, daerah, dan negara. Kawasan industri pupuk Fakfak ini nantinya bisa memproduksi pupuk urea sebanyak 1,15 juta ton per tahun dan amonia 825.000 ton per tahun. Dengan demikian, Pupuk Kaltim, BUMN di bawah PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), akan menopang kebutuhan pupuk urea nasional sekitar 6 juta ton per tahun. Saat ini, Pupuk Kaltim memproduksi 3,2 juta ton urea. Di lokasi pembangunan, seusai peletakan batu pertama, pembangunan kawasan industri yang akan mencapai 500 hektar tersebut terus dikebut.

Ke depan, proyek dengan total investasi Rp 30 triliun tersebut akan melibatkan hingga 10.000 pekerja pada masa puncak konstruksi. Diproyeksikan ada 400 pekerja saat beroperasi penuh sebagai kawasan industri. Angka ini diharapkan bisa berkontribusi pada angka kondisi ketenagakerjaan di Fakfak. Masyarakat banyak memupuk harapan keyakinan positif, tetapi turut diiringi kecemasan dari ”tunas” yang akan muncul dari kehadiran kawasan industri tersebut. Masyarakat lima kampung di distrik tersebut, yakni Arguni, Tafer, Andamata, Fior, dan Furir, ingin kehadiran kawasan ini harus bisa tetap  menjaga laut dan darat yang telah dijaga masyarakat secara turun temurun. Kawasan industri yang terletak di antara Kampung Fior dan Andamata tersebut diharapkan akan sejalan dengan berbagai kesepakatan yang telah dilakukan pemerintah dan investor.  

Jafar Gwasgwas (41), warga Kampung Andamata, berharap anak dan cucunya di masa depan tidak hanya menjadi penonton ketika industri tersebut beroperasi penuh. ”Ada ketakutan seperti di tempat (kawasan industri) lain, anak-anaknya tidak punya keterampilan. Kami butuh pendampingan. Nanti ketika perusahaan sudah beroperasi di sana 4-5 tahun lagi, anak-anak kami sudah siap,” ucap Jafar. Akademisi Universitas Papua, Agus Sumule, mengatakan, kehadiran industri pupuk yang baru akan meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya alam Indonesia. Di sisi lain, berbagai upaya perlu dipersiapkan untuk memanfaatkan peluang tersebut. Kesempatan kerja bisa menjadi peluang besar, khususnya bagi orang asli Papua di Fakfak dan sekitarnya, seperti Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :