Menanti Tunas Harapan Pupuk Fakfak
Masih hangat perbincangan masyarakat Distrik Arguni, Papua
Barat, lokasi kawasan industri pupuk yang menjadi proyek investasi dari PT Pupuk
Kalimantan Timur, tentang kedatangan Presiden Jokowi untuk meresmikan
dimulainya pembangunan kawasan industri Fakfak, Kamis (23/11). Proyek Strategis
Nasional yang ditargetkan beroperasi pada 2028 itu diharapkan bisa memberikan
dampak besar bagi masyarakat, daerah, dan negara. Kawasan industri pupuk Fakfak
ini nantinya bisa memproduksi pupuk urea sebanyak 1,15 juta ton per tahun dan amonia
825.000 ton per tahun. Dengan demikian, Pupuk Kaltim, BUMN di bawah PT Pupuk Indonesia
Holding Company (PIHC), akan menopang kebutuhan pupuk urea nasional sekitar 6
juta ton per tahun. Saat ini, Pupuk Kaltim memproduksi 3,2 juta ton urea. Di lokasi
pembangunan, seusai peletakan batu pertama, pembangunan kawasan industri yang
akan mencapai 500 hektar tersebut terus dikebut.
Ke depan, proyek dengan total investasi Rp 30 triliun
tersebut akan melibatkan hingga 10.000 pekerja pada masa puncak konstruksi. Diproyeksikan
ada 400 pekerja saat beroperasi penuh sebagai kawasan industri. Angka ini
diharapkan bisa berkontribusi pada angka kondisi ketenagakerjaan di Fakfak. Masyarakat
banyak memupuk harapan keyakinan positif, tetapi turut diiringi kecemasan dari
”tunas” yang akan muncul dari kehadiran kawasan industri tersebut. Masyarakat
lima kampung di distrik tersebut, yakni Arguni, Tafer, Andamata, Fior, dan
Furir, ingin kehadiran kawasan ini harus bisa tetap menjaga laut dan darat yang telah dijaga
masyarakat secara turun temurun. Kawasan industri yang terletak di antara
Kampung Fior dan Andamata tersebut diharapkan akan sejalan dengan berbagai
kesepakatan yang telah dilakukan pemerintah dan investor.
Jafar Gwasgwas (41), warga Kampung Andamata, berharap anak
dan cucunya di masa depan tidak hanya menjadi penonton ketika industri tersebut
beroperasi penuh. ”Ada ketakutan seperti di tempat (kawasan industri) lain,
anak-anaknya tidak punya keterampilan. Kami butuh pendampingan. Nanti ketika perusahaan
sudah beroperasi di sana 4-5 tahun lagi, anak-anak kami sudah siap,” ucap
Jafar. Akademisi Universitas Papua, Agus Sumule, mengatakan, kehadiran industri
pupuk yang baru akan meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya alam
Indonesia. Di sisi lain, berbagai upaya perlu dipersiapkan untuk memanfaatkan
peluang tersebut. Kesempatan kerja bisa menjadi peluang besar, khususnya bagi
orang asli Papua di Fakfak dan sekitarnya, seperti Kaimana, Teluk Bintuni, dan
Teluk Wondama. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023