Menata Investasi Asing di Bali
Mengapa Bali perlu waspada mengenai tren investasi asing (foreign direct investment) di beberapa tahun terakhir ini? Pertanyaan ini beralasan, terlebih lagi bila kita melihat tren statistik investasi asing di Bali yang terlalu berpusat di sektor jasa yang mendominasi lebih dari 80% total investasi asing yang datang ke Bali. Hal ini tidaklah mengejutkan karena Bali memiliki banyak keindahan alam dan budaya yang menjadi daya tarik sektor pariwisata, sehingga banyak investor dari mancanegara berlomba-lomba untuk mengeruk keuntungan ekonomi yang ditawarkan oleh pariwisata Bali. Berdasarkan data National Single Window for Investment dari Kementerian Investasi Indonesia, pada 2018 investasi asing mendominasi sampai 97% dari total keseluruhan investasi asing di Bali. Terdapat tiga sektor teratas yaitu hotel & restaurant (US$531.203), transportasi, telekomunikasi & gudang (US$226.189), serta perumahan (real estat) (US$ 101.010).
Situasi ini menyebabkan seringnya kita mendengar masukan bahwa pemerintah Bali harus mendorong investasi asing di luar pariwisata guna menjamin pemerataan. Hal ini beralasan, karena investasi asing bisa memberikan dampak positif bila pemerintah lokal mampu mengarahkannya ke sektor yang tepat. Sebaliknya, bila diarahkan ke sembarang sektor, atau tidak merata, maka investasi asing bisa memberikan dampak negatif terhadap kondisi sosial, misalnya meningkatnya kesenjangan sosial atau inequality.
Melihat situasi alamiah tersebut, bila diarahkan ke sektor pertanian, terutama di sektor perkebunan dan non-pertambangan serta sektor manufaktur, investasi asing bisa dijadikan alat untuk menurunkan ketimpangan pendapatan. Hal ini dikarenakan sektor-sektor tersebut lebih banyak menggunakan tenaga kerja dibandingkan dengan mesin atau teknologi tingkat tinggi. Hal ini menyebabkan para pekerja di sektor tersebut menikmati pendapatan lebih tinggi yang ditawarkan oleh perusahaan asing, sehingga mengurangi gap pendapatan antar pekerja di sektor jasa.
Berdasarkan data BPS Indonesia 2022, persentase populasi di atas umur 15 tahun ke atas yang memiliki latar belakang pendidikan non-sarjana mencapai angka sekitar 88%. Dalam arti lain rata-rata skill yang dimiliki oleh populasi pencari kerja di Bali masih tergolong level rendah (low-skilled labor), yang di mana investasi asing di sektor manufaktur dan agrikultur akan dengan baik menyerap tenaga kerja.
Pembangunan infrastruktur dalam hal ini adalah pembangunan fisik (hard infrastructure) seperti jalan, kereta api, irigasi, fasilitas penunjang lainnya (e.g., listrik dan air) serta pembangunan kapasitas manusia seperti edukasi dan pelatihan dalam berbahasa asing atau penguasaan teknologi tertentu. Pembangunan kedua infrastruktur ini menjadi penting karena berkontribusi positif secara langsung ke penduduk lokal terhadap akses pasar, dan juga memberikan sinyal positif terhadap investor akan adanya sarana logistik yang memadai untuk lalu lintas barang dan jasa serta tenaga kerja.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023