;

UANG BUKAN SEGALANYA DI PASAR WULANDONI

Ekonomi Yoga 12 Nov 2023 Kompas
UANG BUKAN SEGALANYA DI PASAR WULANDONI

Uang telah menjadi alat tukar yang dianggap menandai peradaban modern. Namun, di Pasar Wulandoni, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, uang bukanlah segalanya. Nelayan dan petani masih saling tukar kebutuhan hidup sehari-hari tanpa menggunakan uang. Sabtu (12/8) pagi pukul 08.00, para pedagang, hampir semuanya perempuan, telah menggelar hasil bumi seperti pisang, singkong, keladi dan umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, jagung, sirih dan pinang, serta sayur-mayur. Mereka duduk di lapak-lapak batu yang disemen berbentuk lingkaran, di bawah pohon asam yang tumbuh meraksasa. Lokasi tiap lapak itu diwariskan turun-temurun. Pasar Wulandoni hanya buka seminggu sekali setiap Sabtu, dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, butuh tiga jam dengan mobil.

Pukul 09.00, nelayan dari Pantai Harapan dan Lebala, desa pesisir sekitar Wulandoni, membawa ikan segar yang ditaruh dalam ember dan ikan terbang kering. Ketika hampir semua lapak terisi, Kosmas Dua (64), Mandor Pasar Wulandoni, memungut retribusi dengan membawa karung dan ember. Para pedagang menyerahkan sebagian dagangan, sesisir pisang, beberapa ikat sayur atau ubi. Kosmos memasukkannya ke dalam karung dan membawanya ke Kantor Desa Wulandoni, di depan pasar. Hasil retribusi ini akan dilelang menjelang penutupan pasar. Menandai dimulainya barter, Kosmas meniup buri (peluit) tepat pukul 10.00 pagi. Para nelayan segera menyerbu petani yang membawa hasil kebun, seperti singkong, pisang, ubi, dan sayur-mayur. Pada umumnya, nelayan yang berjalan-jalan sedangkan orang-orang gunung duduk menunggu, karena ikan lebih ringan dibandingkan hasil pertanian.

Tawar-menawar barang berlangsung dalam diam. Kebanyakan menggunakan Bahasa isyarat. Safira (45), misalnya, nelayan dari Pantai Harapan menyodorkan dua ekor ikan kembung segar sambari menunjuk dua sisir pisang susu milik Lena (56), petani dari Kampung Puor, Lena mengangkat tiga jari tangan pertanda ia meminta tambahan satu ekor ikan lagi.  Safira berlalu, transaksi barter gagal. Tak lama berselang, Lidya (34) menyodorkan satu renteng ikan asin sejumlah 10 ekor dan meminta tiga sisir pisang susu kepada Lena, ia mengangguk. Barter berjalan mulus, masing-masing tersenyum puas. ”Kami butuh ikan mereka dan mereka butuh makanan dari kebun kami,” kata lena. Di Wulandoni, kita bisa melihat Pasar barter terbesar yang terakhir di Pulau Lembata ini mempertemukan warga pesisir dan orang-orang pegunungan yang saling membutuhkan. Hampir semua hasil barter untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan untuk dijual lagi. Para petani dan nelayan di Pasar Wulandoni tak terpengaruh lonjakan harga beras atau bahan-bahan pangan lain di level nasional, apalagi perdagangan global. Mereka menentukan nilai barang secara merdeka, berdasarkan kesepakatan dua pihak. (Yoga)

Tags :
#Pasar #Varia
Download Aplikasi Labirin :