UANG BUKAN SEGALANYA DI PASAR WULANDONI
Uang telah menjadi alat tukar yang dianggap menandai
peradaban modern. Namun, di Pasar Wulandoni, Pulau Lembata, Nusa Tenggara
Timur, uang bukanlah segalanya. Nelayan dan petani masih saling tukar kebutuhan
hidup sehari-hari tanpa menggunakan uang. Sabtu (12/8) pagi pukul 08.00, para
pedagang, hampir semuanya perempuan, telah menggelar hasil bumi seperti pisang,
singkong, keladi dan umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, jagung, sirih dan
pinang, serta sayur-mayur. Mereka duduk di lapak-lapak batu yang disemen berbentuk
lingkaran, di bawah pohon asam yang tumbuh meraksasa. Lokasi tiap lapak itu diwariskan
turun-temurun. Pasar Wulandoni hanya buka seminggu sekali setiap Sabtu, dari
Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, butuh tiga jam dengan mobil.
Pukul 09.00, nelayan dari Pantai Harapan dan Lebala, desa
pesisir sekitar Wulandoni, membawa ikan segar yang ditaruh dalam ember dan ikan
terbang kering. Ketika hampir semua lapak terisi, Kosmas Dua (64), Mandor Pasar
Wulandoni, memungut retribusi dengan membawa karung dan ember. Para pedagang menyerahkan
sebagian dagangan, sesisir pisang, beberapa ikat sayur atau ubi. Kosmos memasukkannya
ke dalam karung dan membawanya ke Kantor Desa Wulandoni, di depan pasar. Hasil
retribusi ini akan dilelang menjelang penutupan pasar. Menandai dimulainya
barter, Kosmas meniup buri (peluit) tepat pukul 10.00 pagi. Para nelayan segera
menyerbu petani yang membawa hasil kebun, seperti singkong, pisang, ubi, dan
sayur-mayur. Pada umumnya, nelayan yang berjalan-jalan sedangkan orang-orang
gunung duduk menunggu, karena ikan lebih ringan dibandingkan hasil pertanian.
Tawar-menawar barang berlangsung dalam diam. Kebanyakan
menggunakan Bahasa isyarat. Safira (45), misalnya, nelayan dari Pantai Harapan menyodorkan
dua ekor ikan kembung segar sambari menunjuk dua sisir pisang susu milik Lena
(56), petani dari Kampung Puor, Lena mengangkat tiga jari tangan pertanda ia meminta
tambahan satu ekor ikan lagi. Safira
berlalu, transaksi barter gagal. Tak lama berselang, Lidya (34) menyodorkan
satu renteng ikan asin sejumlah 10 ekor dan meminta tiga sisir pisang susu kepada
Lena, ia mengangguk. Barter berjalan mulus, masing-masing tersenyum puas. ”Kami
butuh ikan mereka dan mereka butuh makanan dari kebun kami,” kata lena. Di
Wulandoni, kita bisa melihat Pasar barter terbesar yang terakhir di Pulau
Lembata ini mempertemukan warga pesisir dan orang-orang pegunungan yang saling
membutuhkan. Hampir semua hasil barter untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan
untuk dijual lagi. Para petani dan nelayan di Pasar Wulandoni tak terpengaruh lonjakan
harga beras atau bahan-bahan pangan lain di level nasional, apalagi perdagangan
global. Mereka menentukan nilai barang secara merdeka, berdasarkan kesepakatan
dua pihak. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023