Di Balik Persaingan Harga di E-dagang
Persaingan platform
e-dagang di Indonesia untuk menguasai pasar dilakukan dengan memberikan promosi
ke konsumen. Selama Oktober 2023, perang harga barang dan ongkos kirim yang
murah terlihat untuk memikat konsumen agar tetap berbelanja daring. Beberapa hari
sebelum Tiktok Shop ditutup 4 Oktober 2023, tim Kompas mendaftarkan akun dan
berbelanja di platform ini. Sejumlah produk muncul di bagian atas laman Tiktok Shop.
Tim membeli kotak makan siang yang ditawarkan Rp 100. Padahal, harga normalnya
Rp 17.010 per buah. Di kesempatan lain, kami mendaftar sebagai pengguna
dilokapasar Shopee, harga kotak makan yang ditawarkan akun penjual bernama toko
yang sama di Tiktok Shop tertera Rp 19.990. Pembeli mendapatkan bebas ongkos
kirim, tetapi dikenai tambahan biaya layanan dan penanganan masing-masing Rp
1.000 sehingga total yang dibayarkan Rp 21.990. Clarissa, anggota tim pemasaran
Aimilo House penjual kotak makanan, membenarkan bahwa harga produknya Rp 100
karena ada potongan harga itu dari Tiktok. Meski harga barang Rp 100, ia tetap mendapat
omzet Rp 17.010 atau sesuai harga jual dari Aimilo House. Sebab, promo jenis
itu sepenuhnya dikendalikan Tiktok.
Subsidi dari platform
e-dagang untuk harga produk biasanya terhitung sebagai ongkos iklan dan pemasaran
perusahaan. Terkait itu, firma penasihat investasi di Jakarta, Nilzon Capital, menganalisis
rasio biaya iklan dan pemasaran terhadap pendapatan sejumlah perusahaan
lokapasar. Pada 2022, biaya iklan dan pemasaran GoTo (induk Tokopedia) sebesar
38 % dari pendapatan, kemudian rasio pada SeaLimited (induk Shopee) 26 %,
Shopify 22 persen, Alibaba 14 %, dan Amazon 8 %. Adapun data keuangan Tiktok
Shop tidak diketahui karena Tiktok masih perusahaan tertutup. Di balik
persaingan dan perang harga di platform e-dagang, pengusaha jasa kurir terkena
getahnya. Data di laman idx.co.id menyebut, sebuah perusahaan jasa pengiriman
ekspres berkantor pusat di Jakarta merugi Rp 243,019 miliar seperti dalam laporan
keuangan per Desember 2022. Lalu, kerugian operasional Januari-Juni 2023
sekitar Rp 76,2 miliar. Seorang direksi di perusahaan ini yang tidak mau
disebut identitasnya menyatakan, kerugian itu disebabkan penurunan daya
pengiriman yang signifikan. Faktor perang harga atau price war pengiriman
menjadi pemicunya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023