Optimisme di Bisnis Fiber Optik
Emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) diproyeksi masih memiliki prospek yang positif ke depan. Terutama menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, momentum Pemilu berpotensi meningkatkan penggunaan data serta permintaan layanan 4G dan 5G. Untuk mengantisipasi kenaikan tersebut, operator telekomunikasi membutuhkan infrastruktur yang kuat, termasuk menara telekomunikasi untuk mendukung jaringan mereka. Hal tersebut berpotensi meningkatkan penyewaan menara serta penggunaan fiber optik yang pada akhirnya akan mengerek pendapatan TOWR sebagai salah satu emiten dengan aset terbesar di Indonesia. Analis Henan Putihrai Sekuritas, Steven Gunawan juga memprediksi, pendapatan TOWR tahun ini akan tumbuh satu digit sebesar 5,5% yoy menjadi Rp 11,65 triliun. Namun, laba bersih TOWR diperkirakan bakal turun 6,4% yoy menjadi Rp 3,22 triliun. Karena meningkatnya biaya bunga akibat kenaikan suku bunga. Meski begitu Steven menilai, TOWR mempunyai keunggulan di bisnis fiber to the tower (FTTT) dibanding pesaingnya, Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Kedua kompetitor tersebut dinilai belum terlalu mengembangkan FTTT. Pada kuartal III-2023, Steven mengestimasi jumlah FTTT yang menghasilkan pendapatan berpotensi meningkat sebesar 20,5% secara kuartalan menjadi 207.946 km dari total panjang yang diluncurkan 228.784 km. "Hal ini didorong oleh langkah TOWR yang terus memperluas jaringan fiber optik, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera yang memiliki permintaan penggunaan data yang signifikan," tutur Steven. Dalam riset yang dirilis pada 3 Oktober 2023, Analis Bahana Sekuritas, Jason Chandra dan Tarra Laurentia berpendapat, bisnis FTTT akan menjadi pendorong utama pertumbuhan TOWR. Investasi awal perusahaan yang tergolong besar untuk pengembangan fiber diyakini akan membuahkan hasil di tahun-tahun mendatang. Steven dan Jason merekomendasikan buy TOWR dengan target harga masing-masing Rp 1.300 dan Rp 1.200 per saham. Sementara Sukarno merekomendasikan buy on weakness di area support kuatnya. Support terdekat di Rp 820-Rp 850 per saham.
Tags :
#TelekomunikasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023