Mengapa Pesepak Bola Kecanduan Judi?
Dalam sepekan terakhir, skandal judi yang melibatkan tiga pemain muda, yakni Nicolo Fagioli (22), Sandro Tonali (23), dan Nicolo Zaniolo (24), membuka lembaran baru masalah di sepak bola Italia. Fagioli dan Tonali telah mengakui mereka kerap memasang taruhan di pertandingan sepak bola, sedangkan Zaniolo mengungkapkan kepada jaksa bahwa ia hanya memainkan poker dan blackjack. Fagioli, pemain Juventus, telah dijatuhi hukuman tujuh bulan larangan bertanding. Adapun Tonali berpeluang mendapat hukuman satu tahun larangan aktif di sepak bola. Hukuman Tonali lebih panjang karena ia mengakui memasang taruhan pada laga AC Milan selama berseragam tim itu. Dalam aturan Italia, pemain dilarang memasang taruhan pada laga profesional di bawah kendali FIGC, UEFA, dan FIFA. Sebelum kasus judi menggemparkan Italia, Ivan Toney, penyerang Brentford, telah menjalani hukuman delapan bulan larangan aktif di sepak bola akibat kecanduan judi.
Kasus yang menimpa pesepak bola di Italia dan Inggris menunjukkan betapa riskannya pemain profesional terperangkap dalam dunia judi. Meskipun dalam masyarakat sosial di Eropa berjudi atau memasang taruhan bukan hal yang haram, ada aturan mengikat untuk atlet. Para atlet dilarang memasang taruhan di pertandingan olahraga yang menjadi mata pencarian utama mereka. Di beberapa negara, terutama Inggris, klub dan kompetisi mendapat sokongan dana besar dari rumah taruhan. Selain itu, psikologis atlet yang terbiasa dalam iklim kompetitif, suka tantangan, dan gemar mengambil risiko juga membuat mereka berisiko besar mengalami kecanduan judi. ”Mereka kompetitif secara alami. Berjudi dengan rekan satu tim meningkatkan risiko mereka. Jika ada kultur berjudi di dalam sebuah tim, itu akan merugikan bagi pemain,” ujar Kieran Murray, penulis jurnal ”Predictors of Adverse Gambling Behaviours Amongst Elite Athletes (2023)”, kepada BBC. Empat hal yang melatar belakangi kultur judi di atlet ialah dukungan dari perusahaan judi (31 %), terpikat sponsor rumah judi (27 %), dipengaruhi rekan satu tim (25 %), dan kemauan sendiri (10 %). (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023