MENJALA INVESTASI CHINA
Kunjungan Presiden Joko Widodo ke China untuk mengikuti rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-3 Belt and Road Summit berbuah manis. Komitmen investasi pun berhasil dikantongi Indonesia dalam Forum Bisnis Indonesia-China kemarin, Selasa (17/10).Nilai komitmen investasi yang telah disepakati pun tak bisa dibilang kecil, yakni mencapai US$13,7 miliar. Tak hanya itu, Indonesia juga berkesempatan meraih potensi investasi senilai US$29 miliar.Tentu kabar ini membawa angin segar bagi pemerintah yang memang amat membutuhkan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) untuk memacu ekonomi lebih tinggi.Apalagi, Indonesia juga telah memasuki tahun politik menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 sehingga tak sedikit pebisnis yang wait and see.Akan tetapi, proses realisasi komitmen investasi dari China itu tidaklah mudah. Musababnya, Negeri Panda juga tengah haus aliran modal guna merangsang gairah ekonomi yang tertekan krisis properti dan pelemahan konsumsi. Strategi termutakhir yang ditempuh adalah dosis jumbo pelonggaran likuiditas yang dieksekusi oleh People’s Bank of China (PBOC) pada awal pekan ini.Bank Sentral China itu menambah dana senilai 289 miliar yuan atau setara dengan US$39,6 miliar ke dalam sistem keuangan guna mendukung penyaluran pinjaman. Angka tersebut merupakan yang terbesar sejak Desember 2020.
Dengan kata lain, China berupaya untuk memacu seluruh komponen PDB seperti sektor properti, konsumsi, dan investasi dalam rangka mengamankan target pertumbuhan sebesar 5% tahun ini.
Dalam konteks ini, Presiden Joko Widodo, menegaskan Indonesia masih menjadi pilihan terbaik bagi investor. Apalagi, penanaman modal asing (PMA) China menjadi yang terbesar kedua.Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan capaian positif, antara lain pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5%, neraca dagang yang surplus 41 bulan berturut-turut, hingga Purchasing Manager Index (PMI) berada di level ekspansi selama 25 bulan berturut-turut.Kepala Negara menambahkan, sebagai salah satu magnet untuk menarik investor China, pemerintah juga menyajikan beragam insentif serta menjamin stabilitas politik.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Adinterim Erick Thohir, menambahkan komitmen investasi China terdiri dari 31 kerja sama, sembilan di antaranya dilakukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).Perusahaan pelat merah yang terlibat antara lain Indonesia Battery Corporation (IBC) dan PT Perusahaan Listrik Negara.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan ada tiga langkah yang perlu dilakukan pemerintah untuk mengamankan komitmen investasi itu.Pertama, China diharapkan tidak melarang atau menghambat arus investasi ke Indonesia. Pun dengan sebaliknya. Kedua, Indonesia perlu meningkatkan iklim usaha dan investasi yang semakin efi sien dan kompetitif untuk investor.Ketiga, diperlukan stimulasi promosi potensi ekonomi dan daya saing iklim investasi Indonesia kepada calon investor China.
Direktur Studi China-Indonesia Center of Economic and Law Studies Muhammad Zulfi kar Rakhmat, mengatakan pemerintah sangat menyambut positif proyek Belt and Road Initiative karena mendukung agenda strategis Indonesia yang berfokus pada pembangunan infrastruktur.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023