;

MAGNET LEASING PIKAT ASING

Ekonomi Hairul Rizal 04 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)
MAGNET LEASING PIKAT ASING

Industri pembiayaan di Tanah Air sedang bersiap lepas landas. Saat kinerja pembiayaan bangkit dari kontraksi selama pandemi Covid-19, investor asing terus menunjukkan minat pada perusahaan multifinance di dalam negeri. Terbaru, PT Home Credit Indonesia (Home Credit) resmi diakuisisi oleh konsorsium yang terafiliasi dengan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) asal Jepang, setelah proses berjalan sejak November 2022. Perkiraan nilai akuisisi yang disepakati sekitar 209 juta euro atau Rp3,4 triliun. Bank of Ayudhya Public Company Limited (Krungsri) asal Thailand--anggota strategis MUFG— PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (Adira Finance), dan mitra lokal menjadi pemegang saham baru dengan komposisi masing-masing 75%, 10%, dan 15%. Home Credit Indonesia sebelumnya merupakan perusahaan patungan antara grup Home Credit B.V asal Republik Ceko dengan PT SL TRIO. Berdiri di Indonesia sejak 2013, perusahaan melayani pembiayaan belanja online dan offline, termasuk untuk peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, dan furnitur. Direktur Strategi Aliansi Bisnis Adira Finance Jin Yoshida mengatakakan akuisisi itu dapat memperkuat franchise Grup MUFG di Indonesia dan membangun sinergi antara Home Credit, Bank Danamon, dan Adira Finance. Bahkan, menurut dokumen Roadmap Perusahaan Pembiayaan Indonesia 2023-2027 yang disusun Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masih terdapat peluang 18 grup perusahaan pembiayaan yang memiliki pemegang saham sama, untuk dapat melakukan aksi korporasi berupa merger, akuisisi, dan konsolidasi. KB Kookmin Card Corp, perusahaan kartu kredit asal Korea Selatan, mengakuisisi 80% saham PT Finansia Multi Finance senilai 94,9 miliar won atau Rp1,1 triliun pada November 2019. Finansia Finance kemudian berubah nama menjadi KreditPlus. Ketua APPI Suwandi Wiratno melihat investor asing, baik yang sudah maupun akan mengakuisisi, mengincar bisnis pembiayaan ritel atau multiguna, seperti pembiayaan sepeda motor dan mobil, serta barang elekronik. Alasannya adalah pembiayaan ritel memiliki peluang lebar mengingat Indonesia akan memasuki bonus demografi pada 2030. Saat itu, akan ada lebih banyak penduduk usia produktif yang membutuhkan kendaraan. Saat ini pasar multifinance dipimpin oleh tiga pemain besar, yakni Astra Group (termasuk FIF, Astra Sedaya Finance, Toyota Astra Financial Service), Adira Finance, dan Mandiri Tunas Finance, berdasarkan data Sucor Sekuritas dan OJK. Pangsa pasar ketiganya masing-masing 25,8%, 6,5%, dan 5,9% pada semester I/2023. Analis Sukor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari mengatakan penetrasi pembiayaan multifinance yang lebih rendah dan prospek besar penjualan otomotif telah menarik minat investor asing mengakuisisi multifinance di Indonesia.

Download Aplikasi Labirin :