Kinerja Manufaktur Terus Melemah
Impor bahan baku dan penolong menurun selama delapan bulan terakhir, memberikan sinyal pelemahan industri manufaktur ditengah lesunya pasar ekspor dan tersendatnya permintaan domestik. Jika terus berlanjut, kondisi ini bisa menekan produktivitas industri dan membawa ancaman gelombang PHK hubungan kerja di sektor padat karya. Data BPS menunjukkan, penurunan kinerja impor bahan baku dan penolong telah berlangsung selama setidaknya delapan bulan terakhir. Pada periode Januari-Agustus 2023, nilai impor bahan baku dan penolong mencapai 107,31 miliar USD, turun 13,14 % dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya (Januari-Agustus 2022), yakni 123,55 miliar USD. Impor bahan baku dan penolong pada Agustus 2023 juga melambat secara bulanan, yakni turun 4,13 % ketimbang Juli 2023, serta terkontraksi lebih dalam secara tahunan sebesar 20,39 % dibandingkan Agustus 2022. Secara kumulatif,
penurunan impor bahan baku dan penolong itu terpantau terjadi berturut-turut sejak Februari 2023. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Senin (18/9) menilai, turunnya impor bahan baku selama berbulan-bulan itu merupakan pertanda kegiatan produksi yang tertahan dan kinerja industri manufaktur sedang melambat. Industri pengolahan dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri. Ketika permintaan jatuh, produsen menahan produksinya, yang otomatis terlihat lewat penurunan impor bahan baku dan penolong. ”Demand (permintaan) ekspor belum terlalu kuat sehingga produsen menahan produksi dan tidak membeli bahan baku dalam jumlah besar,” katanya. Sementara itu, permintaan dalam negeri tidak cukup kuat untuk menopang produksi dan kinerja industri. (Yoga)
Tags :
#Industri ManufakturPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023