;

BAYANG-BAYANG INFLASI PANGAN

Ekonomi Hairul Rizal 12 Sep 2023 Bisnis Indonesia (H)
BAYANG-BAYANG INFLASI PANGAN

Momok inflasi yang belakangan menjauh, ternyata kembali membayangi pemerintah. Setidaknya ada dua faktor yang patut dicermati lantaran berisiko mendorong lesatan inflasi kembali ke tangga lebih tinggi, yakni pangan dan energi serta nilai tukar rupiah.Perihal pangan, Indonesia tengah dihadapkan pada anomali cuaca yakni El Nino sehingga membatasi pasokan hingga distribusi komoditas pangan strategis, terutama beras.Adapun, nilai tukar juga menjadi tekanan lantaran pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah, sehingga berisiko mengakselerasi inflasi atas barang impor.Apalagi, beberapa indikator juga memberikan alasan bagi pemangku kebijakan untuk lebih waspada merespons inflasi. Pertama, kenaikan inflasi untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir pada Agustus 2023, yakni 3,27% (year-on-year/YoY). Kedua, Survei Penjualan Eceran) Bank Indonesia (BI) yang menggambarkan meningkatnya kekhawatiran konsumen soal kenaikan harga pada Oktober 2023 dan Januari 2024, sehingga ekspektasi inflasi pun merangkak.Ketiga, kembali memuncaknya kewaspadaan komunitas global soal risiko inflasi ke depan, terutama yang berasal dari komponen pangan dan energi, sebagaimana terangkum dalam Leaders’ Declaration yang disepakati pimpinan G20 di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) India, 9—10 September 2023. Presiden Joko Widodo, saat melakukan tinjauan dan pemberian bantuan sosial di Gudang Perum Bulog di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/9), tak memungkiri adanya risiko tertekannya daya beli akibat naiknya inflasi, terutama dari komponen pangan.Kepala Negara pun memahami adanya daerah yang kelabakan menghadapi keterbatasan pasokan pangan. Presiden menekankan upaya yang dilakukan adalah memastikan penanganan stok beras dalam negeri tetap dalam taraf aman. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Erwindo Kolopaking, mengatakan fokus kebijakan otoritas moneter saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah, terutama dalam mengendalikan imported inflation agar tetap rendah."Nilai tukar rupiah yang melemah ini kita jaga," katanya.Erwindo menambahkan BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, termasuk efektivitas implementasi instrumen penempatan valuta asing devisa hasil ekspor sumber daya alam (SDA). Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan pebisnis berupaya menjaga kecukupan suplai barang di pasar untuk menstabilkan harga. Dia berharap, pemerintah memberikan bantuan subsidi kepada masyarakat yang rentan.

Tags :
#Inflasi
Download Aplikasi Labirin :