Bank Sentral Diproyeksikan Tahan Bunga Acuan
Bank Indonesia diproyeksikan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate pada level 5 persen hingga akhir tahun ini. Bank Sentral juga diprediksi akan memperkuat upaya pelonggaran likuiditas menjelang akhir tahun.
Namun, untuk mengundurkan likuiditas tersebut, ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan bank sentral perlu memastikan penurunan suku bunga simpanan dan kredit. Apalagi suku bunga acuan telah turun empat kali pada tahun ini. Salah satu kebijakan yang berpeluang ditempuh Bank Indonesia dalam rapat dewan gubernur (RDG) pekan ini adalah pelonggaran giro wajib minimum (GWM). Pada RDG November lalu, bank sentral telah memangkas GMW sebesar 1 persen untuk bank umum konvensional maupun syariah, masing-masing menjadi 5,5 persen dan 4 persen. Adapun sentimen perekonomian global cenderung menguatkan bank sentral agar menahan bunga acuan. Direktur PT Anugerah Mega Investasi, Hans Kwee, mengatakan pelaku pasar keuangan global pada akhir 2019 ini masih menanti satu kesepakatan penangguhan perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat. Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 1,50-1,75 persen.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023