Perempuan Nelayan Menatap Hidup
Lebih dari satu dekade terakhir, belasan perempuan di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak, Jateng, mengais rezeki di laut sebagai nelayan. Padahal, pekerjaan sebagai nelayan jauh dari angan-angan para perempuan tersebut. Pekerjaan itu terpaksa dilakoni karena mereka tak punya banyak pilihan. ”Mau kerja di pabrik tidak mungkin karena umur saya sudah terlalu tua. Ijazah juga saya tidak punya. Jadi, ya (kerja) ini saja, biar bisa tetap makan,” kata Zubaedah (55), salah satu perempuan nelayan di Timbulsloko, saat ditemui, Selasa (21/8). Menurut Zubaedah, hidup di tengah impitan rob tidaklah mudah. Ia dan keluarganya cuma dua pilihan, yakni pindah atau bertahan. Karena tak punya banyak uang untuk pindah, keluarganya terpaksa bertahan. Supaya bisa bertahan, mereka dituntut untuk beradaptasi.
Zubaedah yang awalnya bekerja sebagai ibu rumah tangga harus turut membantu suaminya yang bekerja sebagai buruh serabutan untuk mencari uang, menjadi nelayan. Perempuan lain, Sunarti (50), juga bekerja sebagai nelayan sebagai bentuk adaptasi. Mulanya, ibu tunggal dari dua anak itu bekerja sebagai buruh bangunan dan buruh kupas bawang. Ia belajar melaut dari saudara laki-lakinya yang lebih dulu beralih pekerjaan menjadi nelayan. ”Saya belajar cara mengendarai kapal, memancing, dan memasang jaring serta perangkap ikan dalam waktu satu pekan,” tutur Sunarti. Setiap harinya, Sunarti melaut dari pukul 07.00 hingga pukul 13.00. Dari aktivitas itu, Sunarti bisa mengantongi uang paling banyak Rp 60.000. Kalau sedang apes, ia hanya dapat Rp 5.000. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023